News

Kemenangan Presiden Terpilih Iran Ebrahim Raisi Bikin Israel 'Keder', Ini Alasannya

Ebrahim Raisi diyakini akan menjadi presiden Iran paling ekstrem dan meningkatkan aktivitas nuklir di negara tersebut.


Kemenangan Presiden Terpilih Iran Ebrahim Raisi Bikin Israel 'Keder', Ini Alasannya
Presiden Terpilih Iran Ebrahim Raisi. (Foto: Tehran Times)

AKURAT.CO, Seorang juru bicara kementerian luar negeri Israel, Lior Haiat, yakin Ebrahim Raisi akan menjadi presiden Iran yang paling ekstrem. Ia pun memperingatkan bahwa pemimpin baru itu akan meningkatkan aktivitas nuklir Iran.

Dilansir dari BBC, Iran dan Israel sudah lama beradu dalam 'perang bayangan'. Akibatnya, kedua negara itu saling balas dendam, tetapi menghindari konflik habis-habisan. Meski begitu, belakangan ini permusuhan antara keduanya kembali meningkat. Salah satu sumber terbesar ketegangannya adalah aktivitas nuklir Iran.

Iran menyalahkan Israel atas pembunuhan ilmuwan nuklir utamanya tahun lalu dan serangan terhadap salah satu pabrik pengayaan uraniumnya pada April. Sementara itu, Israel tidak percaya kalau program nuklir Iran murni bersifat damai. Negara itu yakin kalau Iran sedang mengembangkan senjata nuklir.

Pada Sabtu (19/6), Ebrahim Raisi dinyatakan memenangkan pemilihan presiden Iran. Pria yang akan dilantik pada Agustus ini adalah hakim tertinggi Iran yang punya pandangan ultrakonservatif. Dalam pidato kemenangannya, ia berjanji untuk memperkuat kepercayaan publik kepada pemerintah dan menjadi pemimpin bagi seluruh bangsa.

"Saya akan membentuk pemerintahan yang bekerja keras, revolusioner, dan antikorupsi," janjinya.

Namun, hasil pemungutan suara ini rupanya tak disambut baik oleh Haiat dari Israel. Melalui utas Twitter, ia mengklaim Raisi adalah tokoh ekstremis yang berkomitmen pada program nuklir militer Iran yang berkembang pesat. Juru bicara kementerian luar negeri Israel itu juga menyebut Raisi sebagai 'algojo Teheran', merujuk pada eksekusi massal ribuan tahanan politik pada 1988.

Saat itu, Raisi menjadi salah satu dari 4 hakim yang kemudian dijuluki sebagai 'komite kematian'. Mereka diduga mengeksekusi mati sekitar 5 ribu pria dan wanita, menurut Amnesty International. Namun, dalam twitnya, Haiat mengatakan lebih dari 30 ribu orang tewas, angka yang juga dirujuk oleh kelompok HAM Iran.

Baca Juga: 5 Fakta Penting Presiden Terpilih Iran Ebrahim Raisi, 'Algojo' Ribuan Tapol di Luar Hukum

Presiden terpilih ini pun masih berada di bawah sanksi Amerika Serikat (AS) akibat skandalnya tersebut.

AS turut mengomentari hasil Pemilu di Iran. Negara adidaya itu mengaku menyesalkan ditolaknya hak sebagian rakyat Iran untuk memilih pemimpin mereka sendiri dalam proses Pemilu yang bebas dan adil.

Komentar ini menyoroti jumlah pemilih yang berada pada rekor terendah dalam Pemilu tersebut. Kurang dari 50 persen pemilih terdaftar datang ke tempat pemungutan suara, dibandingkan dengan lebih dari 70 persen pada tahun 2017. Banyak orang yakin Pemilu tahun ini telah direkayasa untuk mendukung Raisi yang merupakan sekutu setia Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Sementara itu, Presiden Vladimir Putin langsung mengucapkan selamat atas kemenangan Raisi. Ia menyoroti hubungan tradisional yang ramah dan bertetangga akur antara kedua negara.

Para pemimpin Suriah, Irak, Turki, dan Uni Emirat Arab (UEA) pun mengirimkan ucapan selamat dan pesan dukungan serupa. Seorang juru bicara Hamas, kelompok militan Palestina yang menguasai Gaza, juga mendoakan kemajuan dan kemakmuran bagi Iran.

Di sisi lain, kelompok HAM mengatakan Raisi harus diselidiki karena kekejamannya.

"Sebagai kepala peradilan yang represif, Raisi mengawasi sejumlah kejahatan paling keji dalam sejarah Iran baru-baru ini. Jadi, ia lebih pantas diselidiki dan dipertanggungjawabkan daripada dipilih sebagai pejabat tinggi," kata Michael Page dari Human Rights Watch.[]