Rahmah

Kemenag Bakal Gelar Launching Hari Santri Nasional 2022 di UIN Pekalongan

Kemenag Bakal Gelar Launching Hari Santri Nasional 2022 di UIN Pekalongan
Sejumlah santri melakukan pawai memperingati Hari Santri Nasional di Tapos, Depok, Jawa Barat, Kamis (22/10/2020). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Kementerian Agama akan kembali menggelar serangkaian peringatan Hari Santri. Tahun 2022 sekarang, launching peringatan Hari Santri akan digelar di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) KH Abdurrahman Wahid.

Ali Ramdhani, Dirjen Pendis Kemenag menyebut Hari Santri salah satunya peringati peristiwa paling bersejarah tentang peran dan kontribusi kaum santri bagi bangsa Indonesia adalah tercetusnya fatwa.

“Resolusi Jihad” 22 Oktober 1945. Fatwa yang dirumuskan kalangan kiai pesantren dengan dikomandoi oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari ini berisi kewajiban berjihad demi mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Jihad kebangsaan itu kemudian melahirkan peristiwa heroik 10 November 1945 di Surabaya yang kini diperingati sebagai “Hari Pahlawan," kata dia.

baca juga:

“Peristiwa Resolusi Jihad kemudian menjadi dasar penting ketika Presiden Joko Widodo menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri melalui Keppres Nomor 22 Tahun 2015 silam yang dideklarasikan di Masjid Istiqlal Jakarta,” terangnya melalui keterangan tertulis, Senin (26/9).

Ia juga menyebut, Kemenag akan mengadakan Launching Peringatan Hari Santri 2022 di halaman kampus Universitas Islam Negeri (UIN) KH Abdurrahman Wahid Pekalongan.

“Insya Allah, launching akan dibuka oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas pada Selasa malam, 27 September 2022,” terangnya. 

Launching ini akan dimeriahkan juga dengan pentas musik dan salawat yang akan dibawakan para penyanyi, yaitu Zulfikar Basyaiban, Veve Zulfikar, Woro Widowati, dan Grup Qasidah Qasima.

Ramdhani menjelaskan, penempatan UIN Pekalongan menjadi lokasi launching Hari Santri 2022 karena ingin meneladani KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai representasi ‘santri kosmopolitan’, yaitu seorang yang berakar dari pesantren namun berwawasan global.

“Akar inilah yang kemudian Gus Dur dapat membangun lahirnya pemahaman Islam yang moderat, toleran, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan,” jelasnya.