News

Kembalikan Hukuman Ketat, Taliban Bakal Potong Tangan dan Kaki Pencuri hingga Eksekusi 

Hukuman mungkin tidak akan dilakukan di depan publik seperti yang kerap terjadi di era sebelumnya.


Kembalikan Hukuman Ketat, Taliban Bakal Potong Tangan dan Kaki Pencuri hingga Eksekusi 
Pemimpin Taliban Mullah Nooruddin Turabi berpose untuk foto di Kabul, Rabu, (22/9) (AP/Felipe Dana)

AKURAT.CO  Salah satu pendiri Taliban, Mullah Nooruddin Turabi mengatakan bahwa Taliban akan kembali memberlakukan eksekusi hingga hukuman potong tangan. Meskipun dalam hal ini, Turabi mengatakan hukuman mungkin tidak akan dilakukan di depan publik seperti yang kerap terjadi di era sebelumnya.

Dalam sebuah wawancara dengan The Associated Press (AP), Turabi menepis kemarahan atas eksekusi Taliban di masa lalu itu. Dia juga memperingatkan dunia agar tidak ikut campur dengan penguasa baru Afganistan.

"Semua orang mengkritik kami atas hukuman di stadion, tetapi kami tidak pernah mengatakan apa pun tentang aturan dan hukuman mereka.

"Tidak ada yang bisa memberi tahu kami seperti apa hukum kami seharusnya. Kami akan mengikuti Islam dan kami akan membuat hukum kami berdasarkan Al-Quran," kata Turabi berbicara dari Kabul.

Taliban dengan serangan kilatnya telah berhasil merebut pemerintahan dan menduduki Kabul pada 15 Agustus. Sejak itu, baik warga Afganistan  maupun dunia tak henti-hentinya mengamati gerakan hingga kebijakan Taliban. Masyarakat ingin tahu apakah kelompok itu akan menciptakan kembali aturan keras mereka seperti di akhir 1990-an. 

Komentar Turabi itu telah menunjukkan jawabannya. Mengutip AP, para pemimpin Taliban ternyata masih mengakar kepada pandangan garis keras yang sangat konservatif, bahkan meski mereka merangkul perubahan teknologi, seperti video dan ponsel.

Turabi, sekarang berusia awal 60-an, adalah menteri kehakiman dan kepala Kementerian Khotbah dan Bimbingan, Penyebaran Kebajikan serta Pencegahan Kejahatan. Ini adalah kementerian yang menggantikan Kementerian Urusan Wanita. Kementerian itu juga secara efektif menjadi semacam 'polisi agama' seperti yang diterapkan selama pemerintahan Taliban sebelumnya.

Baca Juga: Taliban Ganti Kementerian Urusan Wanita Menjadi Lembaga 'Khotbah'

Di era Taliban pertama berkuasa, dunia mengecam hukumanan mereka. Ini terutama karena hukuman atau eksekusi yang mereka lakukan kerap digelar di tempat umum, seperti stadion olahraga Kabul hingga halaman masjid Eid Gah yang luas, dengan ratusan pria Afganistan hadir untuk menyaksikan.

Eksekusi terpidana pembunuh biasanya dengan satu tembakan ke kepala, dilakukan oleh keluarga korban, yang memiliki pilihan untuk menerima 'diyat' atau membiarkan pelakunya hidup. 

Sementara untuk pencuri yang didakwa, hukumannya adalah potong tangan. Kemudian bagi mereka yang dihukum karena perampokan di jalan raya, tangan dan kakinya diamputasi.

Namun, pengadilan dan vonis jarang terbuka untuk umum dan peradilan ditimbang dengan bantuan para ulama Islam, yang pengetahuan hukumnya terbatas pada perintah agama.

Turabi mengatakan bahwa kali ini, hakim - termasuk wanita - akan mengadili kasus, tetapi dasar hukum Afganistan adalah Al-Qur'an. Dia mengatakan hukuman yang sama akan dihidupkan kembali.

"Pemotongan tangan sangat diperlukan untuk keamanan," kata Turabi, mengatakan hukuman itu memiliki efek jera. Dia juga mengatakan Kabinet sedang mempelajari apakah akan melakukan hukuman di depan umum dan 'mengembangkan kebijakan'.

Dalam beberapa hari terakhir di Kabul, para pejuang Taliban telah menghidupkan kembali hukuman yang biasa mereka gunakan di masa lalu. Mereka mempermalukan orang-orang yang dituduh melakukan pencurian kecil-kecilan di depan umum.

Setidaknya dua kali dalam seminggu terakhir, laki-laki Kabul dijejalkan ke bagian belakang truk pikap. Tangan mereka lalu diikat, dan diarak berkeliling dengan tujuan  untuk dipermalukan. 

Dalam satu kasus, wajah mereka dicat untuk menunjukkan bahwa mereka adalah pencuri. Di sisi lain, roti basi digantung di leher mereka atau dimasukkan ke dalam mulut mereka. Belum jelas apa kejahatan yang mereka perbuat hingga diberi hukuman seperti itu.

Kembalikan Hukuman Ketat, Taliban Bakal Potong Tangan dan Kaki Pencuri hingga Eksekusi  - Foto 1
 AP

Mengenakan sorban putih dan janggut putih lebat yang tidak terawat, Turabi yang kekar sedikit tertatih-tatih berjalan dengan kaki palsunya. Dia kehilangan satu kaki dan satu mata selama pertempuran dengan pasukan Soviet pada 1980-an.

Di bawah pemerintahan baru Taliban, Turabi yang ada dalam daftar sanksi PBB, bertanggung jawab atas penjara. Dia termasuk di antara sejumlah pemimpin Taliban dan anggota Kabinet sementara yang semuanya laki-laki.

Selama pemerintahan Taliban sebelumnya, Turabi adalah salah satu penegak kelompok yang paling ketat dan tidak kenal kompromi. Ketika Taliban mengambil alih kekuasaan pada tahun 1996, salah satu tindakan pertamanya adalah meneriaki seorang jurnalis wanita, menuntut dia meninggalkan ruangan pria, dan kemudian memberikan tamparan keras di wajah seorang pria yang keberatan.

Turabi terkenal karena merobek kaset musik dari mobil, merangkai ratusan meter kaset yang hancur di pohon dan rambu-rambu jalan. Dia menuntut laki-laki memakai sorban di semua kantor pemerintah dan antek-anteknya secara rutin memukuli laki-laki yang janggutnya telah dicukur. Olahraga dilarang, dan pasukan penegak Turabi memaksa pria ke masjid untuk salat lima waktu.

Dalam wawancara minggu ini dengan AP, Turabi berbicara dengan seorang jurnalis wanita.

“Kami telah berubah dibanding masa lalu," katanya.

Turabi mengatakan sekarang Taliban akan mengizinkan televisi, ponsel, foto, dan video. Menurutnya, semua itu adalah 'kebutuhan rakyat'.

"Karena ini adalah kebutuhan rakyat, dan kami serius tentang hal itu," katanya.

Hal itu juga dilakukan agar Taliban melihat media sebagai cara untuk menyebarkan pesan mereka. 

"Sekarang kita tahu daripada hanya mencapai ratusan, kita bisa mencapai jutaan," ujarnya sambil menambahkan bahwa jika hukuman diumumkan kepada publik, maka orang mungkin diizinkan untuk merekam video atau mengambil foto untuk menyebarkan efek jera.

Sementara itu, AS dan sekutunya ingin Taliban memodernisasi kekuasaan dan memberi kesempatan faksi-faksi minoritas dan perempuan untuk masuk dalam pemerintahan. Agar terealisasi, AS dan sekutu pun sampai mencoba menggunakan ancaman isolasi yang memicu kerusakan ekonomi.

Namun, Turabi terlihat tidak terpengaruh. Ia dengan tegas menepis kritik atas pemerintahan Taliban sebelumnya, dengan alasan bahwa hal itu berhasil membawa stabilitas.

"Kami memiliki keamanan lengkap di setiap bagian negara," katanya merujuk pada kondisi negara saat Taliban berkuasa pada akhir 1990-an.

Bahkan ketika penduduk Kabul mengungkapkan ketakutannya atas penguasa baru, beberapa orang dengan enggan mengakui bahwa ibu kota telah menjadi lebih aman hanya dalam sebulan terakhir.

Sebelum pengambilalihan Taliban, gerombolan pencuri berkeliaran di jalan-jalan, dan kejahatan tanpa henti telah mengusir sebagian besar orang dari jalanan setelah gelap.

"Bukan hal yang baik untuk melihat orang-orang ini dipermalukan di depan umum, tetapi itu menghentikan para penjahat karena ketika orang melihatnya, mereka berpikir 'saya tidak ingin itu terjadi kepada saya," kata Amaan, seorang pemilik toko di pusat kota Kabul. Dia meminta untuk diidentifikasi hanya dengan satu nama.

Penjaga toko lain mengatakan itu adalah pelanggaran hak asasi manusia, tetapi dia juga senang bisa membuka tokonya setelah gelap.[]