News

Kemas 1,1 Kilogram Sabu ke Dalam Bungkus Permen, Pengedar Pasarkan Via Telegram


Kemas 1,1 Kilogram Sabu ke Dalam Bungkus Permen, Pengedar Pasarkan Via Telegram
Kapolres Bantul AKBP Wachyu Tri Budi Sulistyono menunjukkan barang bukti sabu dalam bungkus permen yang diamankan dari tangan tersangka SWH, Selasa (3/3/2020). (AKURAT.CO/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO, Jajaran Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Bantul melumpuhkan seorang bandar sabu berinisial SWH alias AGA, warga Kadipaten, Kraton, Kota Yogyakarta. Tak main-main, dari tangan pria berusia 29 tahun itu polisi berhasil mengamankan sederet barang bukti. Satu di antaranya adalah sabu seberat 1,1 kilogram.

Kapolres Bantul AKBP Wachyu Tri Budi Sulistyono menerangkan, SWH ini merupakan target buruan kepolisian. Sehingga, gerak-geriknya telah diintai sejak lama.

Penangkapan terhadap tersangka ini sendiri bermula usai jajaran Satresnarkoba, Minggu (1/2/2020) lalu mendapati informasi bahwa sebuah indekos di Krapyak Wetan, Panggungharjo, Sewon, Bantul sering dijadikan tempat penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang.

"Informasi kami terima dan kami tindak lanjuti lebih dalam. Senin (2/3/2020) dini hari kami melakukan penyelidikan dan pemantauan di tempat tersebut," kata Wachyu saat jumpa pers di Polres Bantul, Selasa (3/3/2020).

Kemas 1,1 Kilogram Sabu ke Dalam Bungkus Permen, Pengedar Pasarkan Via Telegram - Foto 1
AKURAT.CO/Kumoro Damarjati

Selang beberapa lama pengintaian, datang sebuah mobil putih yang kemudian berhenti di depan indekos tersebut. Lalu, turunlah seseorang dari dalam yang tak lain merupakan SWH.

"Orang itu adalah SWH yang selama ini kita target. Kami tangkap dan kami lakukan penggeledahan di kos-kosan itu," lanjut Kapolres.

Petugas, lanjut Kapolres sempat melancarkan tindakan tegas terukur dalam upaya penangkapan SWH. Tersangka yang mencoba kabur terpaksa dihadiahi timah panas pada telapak kaki kanannya.

Sementara, bangunan indekos itu tadi ternyata adalah tempat selama ini SWH tinggal. Di dalamnya, polisi menemukan barang bukti narkotika dan obat-obatan terlarang, antara lain sabu seberat 1138,5 gram atau 1,1 kilogram, tembakau gorilla 25,68 gram, ganja 25,58 gram, pil riklona clonazepam 15 butir, dan seribu butir obat daftar G.

Kemas 1,1 Kilogram Sabu ke Dalam Bungkus Permen, Pengedar Pasarkan Via Telegram - Foto 2
AKURAT.CO/Kumoro Damarjati

"Kemudian ada timbangan digital ada tiga buah, korek dua buah, alat perekat plastik, ada plastik, handphone 9 buah. Kemudian ada (kartu) atm beserta buku tabungan dan uang Rp1 juta. Ciri-ciri pengedar menyiapkan plastik dan timbangan," papar Wachyu.

Tertangkapnya SWH turut mengungkap modus baru peredaran sabu. Karena barang haram ini oleh tersangka tak dikemas secara biasa, melainkan menggunakan plastik permen sebagai pembungkusnya.

"Ini modus baru, disamarkan pakai bungkus permen. Bisa pakai semua bungkus, tapi saat ini pelaku pakai permen relaxa. Kami berhasil amankan 12 permen yang didalamnya isi sabu. Untuk seberat 0,5 gram dijual seharga Rp600 ribu," jelas Kapolres lagi.

Oleh tersangka, paket sabu miliknya itu diedarkan dengan cara diletakkan di alamat tertentu sesuai pesanan. Tepatnya, usai dirinya menerima transfer uang sebagai imbalan paket tersebut.

Biasanya tak diedarkan ke sembarang orang, hanya ke pihak-pihak tertentu saja yang sudah mengetahui apa isinya. Langkah ini juga disinyalir menjadi salah satu upaya meminimalkan pertemuan antara pembeli dan pengedar.

Sementara SWH mengaku baru per Januari kemarin menggunakan modus bungkus permen macam ini. Sedangkan untuk pemasarannya, dia memanfaatkan aplikasi Telegram.

"Dipesan via telegram. Setelah itu biasanya saya taruh alamat, kalau nggak di Jalan Parangtritis ya di Jalan Wates. Tidak tahu siapa pembelinya. Asal transfer saya beritahu alamatnya," aku tersangka kepada petugas.

Wachyu sendiri menduga bahwa tersangka ini juga merupakan pengguna. Karena, ketika indekosnya digeledah, turut ditemukan alat hisap sabu atau bong.

Atas perbuatannya, SWH terancam dikenakan Pasal 111 ayat (1) dan Pasal 112 UU RI. Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ancaman pidananya maksimal hukuman mati.

"Sosok ini memang residivis, sembilan bulan lalu baru bebas (dari penjara) dengan kasus yang sama," pungkas Wachyu. []