News

Keluarga Awak Kapal Selam KRI Nanggala 402: Kami Optimis, Semoga Evakuasi Tepat Waktu

Terhitung sejak akhir Maret lalu, keluarga tak lagi melihat sosok Fajar secara langsung.


Keluarga Awak Kapal Selam KRI Nanggala 402: Kami Optimis, Semoga Evakuasi Tepat Waktu
Foto KLS Isy Gunadi Fajar, salah satu personel dalam KRI Nanggala-402 (AKURAT/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO, KLS Isy Gunadi Fajar Rahmanto adalah satu dari 53 awak Kapal Selam Nanggala 402 yang hilang kontak sejak Rabu (21/4) pagi di Perairan Bali. Pihak keluarga masih menanti kepulangan pria asal Bantul, DIY, tersebut.

Sunaryo (48), ayahanda Fajar sangat berharap putra sulungnya itu bisa ditemukan dengan selamat bersama seluruh awak Kapal Selam Nanggala 402.

"Kalau di Nanggala 402 itu bertugas di bagian sonar," kata Sunaryo saat dijumpai di kediamannya, RT. 3 Ngreco, Seloharjo, Pundong, Bantul, DIY, Jumat (23/4/2021).

"Harapan besar keluarga itu bisa dievakuasi dengan selamat semua kru awaknya, pihak pemerintah dan pihak evakuasi tepat waktu agar selamat," sambung dia.

Sunaryo memang tampak sangat terpukul dengan kabar hilangnya Kapal Selam Nanggala 402. Sempat ia tidak percaya ketika kali pertama menerima informasi tersebut dari menantunya, istri dari Fajar yang kini tengah mengandung tujuh bulan.

"Rabu malam ngasih kabar begini, 'Bapak, KRI Nanggala kehilangan kontak,' terus kita pastikan lihat berita lewat HP, benar Nanggala 402 itu kapal anak saya, masalah nama dan lain-lain belum tahu, pastinya dari kapalnya kapal Nanggala 402," bebernya.

Dikatakan pemilik bengkel las ini informasi mengenai keberadaan atau pencarian Nanggala 402 hanya dari menantunya seorang, yang menjalin komunikasi antar istri anggota TNI Angkatan Laut.

"Di sana memberi kabar bagaimana sekarang dilakukan pencarian, baru nanti dikasih kabar ke sini," jelasnya.

Sunaryo saat ditemui di kediamannya, RT 3 Ngreco, Seloharjo, Pundong, Bantul, DIY, Jumat (23/4/2021) pagi | AKURAT/Kumoro Damarjati

Mengenai sosok Gunadi Fajar Rahmanto, diterangkan sang ayah, merupakan anak pertama dari dua bersaudara yang mulai mengabdi di Angkatan Laut sejak 2014 lalu. Fajar memulai kariernya di Komando Armada I, Jakarta Pusat.

Pria kelahiran Juli 1993 itu lantas kembali mengambil pendidikan di Sekolah Awak Kapal Selam (Sekasel). Lalu hijrah ke Komando Armada II yang membawahi wilayah laut Indonesia bagian tengah di Surabaya, Jawa Timur.

"Sekolah kapal selam lalu pindah ke armada II di Surabaya sejak 2 tahunan ini. Kalau sama pendidikan ya 3 tahunan mungkin hampir 9 bulan," kata Sunaryo.

Terhitung sejak akhir Maret lalu, keluarga tak lagi melihat sosok Fajar secara langsung. Terakhir, alumnus SMAN 1 Pundong itu masih sempat pulang ke Bantul sebelum kembali lagi bertugas di Surabaya.

Sudah sejak 27 Maret 2021 lalu Sunaryo tak memandang wajah putranya secara langsung. Saat itu Fajar tengah mengambil libur. Komunikasi terakhir terjalin via WhatsApp sekitar sepekan lalu.

"Kalau terakhir komunikasi via HP minggu kemarin, pamitan sama ibunya berangkat layar, sehabis itu berapa malam tidak ada WA lalu tidak aktif hpnya terus ada kabar itu, bahwa hilang kontak," ujar Sunaryo.

Pihak keluarga bagaimanapun sangat optimis bisa kembali bertemu Fajar. Acara doa bersama memohon keselamatan bagi seluruh awak Kapal Selam Nanggala-402 juga sudah dilakukan semalam. 

"Keluarga selalu optimis dan berdoa semoga Tuhan memberikan selamat," tandasnya.

KRI Nanggala-402 melakukan penyelaman sekitar pukul 03.00 WITA, Rabu, untuk melakukan latihan peluncuran torpedo nomor 8. Komunikasi terakhir dengan KRI Nanggala-402 berlangsung pada pukul 04.25 WITA, yaitu saat komandan gugus tugas latihan akan memberi otorisasi penembakan torpedo.

Setidaknya ada 21 kapal milik TNI yang telah dikerahkan untuk mencari KRI Nanggala-402. TNI juga menerima bantuan empat kapal dari kepolisian, serta beberapa kapal dan peralatan dari negara-negara sahabat, di antaranya Malaysia, Singapura, India, dan Australia.

Kemampuan oksigen di KRI Nanggala-402 sendiri diperkirakan hanya akan tersedia sampai 72 jam atau kurang lebih tiga hari dalam keadaan mati total (blackout). Kapal itu telah hilang kontak pada pukul 03.00 WITA, sehingga oksigen kemungkinan tersedia sampai pukul Sabtu pukul 03.00 WITA. []

Dian Dwi Anisa

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu