News

Kekayaan Bupati Kolaka Timur  yang Ditangkap KPK Kurang dari Rp 500 Juta

Andi Mery Nur dilantik oleh Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi pada 14 Juni 2021


Kekayaan Bupati Kolaka Timur  yang Ditangkap KPK Kurang dari Rp 500 Juta
Ilustrasi - OTT KPK (AKURAT.CO/Candra Nawa)

AKURAT.CO, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengamankan Bupati Kolaka Timur Andi Mery Nur melalui Operasi Tangkap Tangan. Faktanya Andi baru tiga bulan menjabat bupati.

Andi Mery Nur dilantik oleh Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi pada 14 Juni 2021, di Rumah Jabatan Gubernur. Bupati tersebut terhitung menjabat sebagai Bupati Kolaka Timur baru 99 hari.

Bupati Andi Mery Nur sebelumnya maju sebagai Wakil Bupati Kolaka Timur berpasangan dengan Samsul Bahri Majid (Alm) pada Pilkada 2020 di Kabupaten Kolaka Timur.

Keduanya memenangkan kontestasi lima tahunan tersebut. Keduanya lalu dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kolaka Timur oleh Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi pada 26 Februari 2021.

Namun, Bupati Kolaka Timur Samsul Bahri Majid yang belum sebulan dilantik meninggal dunia usai bermain sepak bola di daerah tersebut pada 19 Maret 2021.

Dilansir dari https://elhkpn.kpk.go.id/, Andi Merya memiliki total harta kekayaan sebesar Rp 478 juta. Ia melaporkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN)-nya pada 9 September 2020 lalu atau pada saat mengajukan diri sebagai calon kepala daerah.

Adapun rincian hartanya adalah tanah dan bangunan senilai Rp 90 juta, harta bergerak lain senilai Rp 374 juta, kas dan setara kas sebesar Rp 13 juta. Sehingga total menjadi Rp 478 juta.

Diketahui, KPK kembali melakukan operasi senyap. Kali ini menyasar Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Salah seorang yang diamankan diduga Bupati Kolaka Timur Andi Merya Nur. Operasi senyap pada Selasa malam di Sultra dibenarkan Plt Jubir KPK.

"Benar, berdasarkan informasi yang kami terima, Selasa (21/9) sekitar jam 8 malam, tim KPK berhasil mengamankan beberapa pihak dalam kegiatan tangkap tangan terkait dugaan tindak pidana korupsi di wilayah Kabupaten Kolaka Timur, Sultra," ucap Ali Fikri.

Ali mengatakan para pihak yang ditangkap dan diamankan masih dalam proses permintaan keterangan oleh tim KPK.

"KPK masih memiliki waktu untuk menentukan sikap dari hasil pemeriksaan yang saat ini masih berlangsung," ujar Ali. []