Ekonomi

Kejar Keuntungan, Banyak Influencer Abaikan Peran Mulia Pengaruhi Perilaku Konsumsi Masyarakat

pandemi Covid-19 membuat berkembangnya tren pemasaran baru, terutama di media sosial, yang mengandalkan peran para influencer atau buzzer


Kejar Keuntungan, Banyak Influencer Abaikan Peran Mulia Pengaruhi Perilaku Konsumsi Masyarakat
Ilustrasi influencer untuk kembangkan bisnis (Pixabay)

AKURAT.CO Era modern termasuk di tengah pandemi Covid-19 membuat berkembangnya tren pemasaran baru, terutama di media sosial, yang mengandalkan peran para influencer atau buzzer. Fenomena ini terjadi bukan hanya dalam bidang bisnis, tetapi juga sosial dan politik.

Banyak influencer, baik dari kalangan selebriti atau tokoh-tokoh berpengaruh, yang sengaja dibayar untuk mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakat. Prof. Dr. Chairy mengungkapkan para influencer ini sesungguhnya dapat memainkan peran penting dalam mendorong masyarakat untuk mengonsumsi secara sadar.

" Sayangnya dalam masyarakat yang semakin kapitalistik dan hedonistik, banyak influencer yang lebih memilih untuk mengejar keuntungan materi dan mengabaikan peran mulia tersebut," tutur Prof. Dr. Chairy dalam orasi pengukuhan guru besar bidang manajemen di President University beberapa waktu lalu.

Chairy mengakui pandemi membuat luluh lantak banyak sendi kehidupan mulai dari sosial, budaya, ekonomi dan bisnis, serta masih banyak lagi.Kendati demikian, bak kotak Pandora, pandemi ini juga membuka banyak kesempatan.

Di antaranya, pandemi dapat menjadi momentum guna mendorong masyarakat untuk melakukan kegiatan produksi dan konsumsi secara sadar dan lebih bertanggung jawab, termasuk menerapkan konsep ekonomi sirkular.

" Pandemi juga dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk mengalihkan fokusnya dari ekonomi material ke ekonomi yang berbasis pada kekayaan intelektual dan teknologi," ujarnya.

Chairy menyatakan di dunia, sejumlah negara yang mampu mengakumulasi kekayaan intelektual dan teknologinya ternyata dapat lebih menjamin kesejahteraan dan masa depan rakyatnya dibandingkan negara-negara yang masih berorientasi pada ekonomi material. 

Menurut Chairy, pandemi dapat menjadi momentum guna mendorong munculnya gerakan masyarakat untuk mengonsumsi secara sadar (conscious consumption).

“Konsumen yang sadar melihat konsumsi sebagai tindakan sosial. Artinya, mereka tidak mengonsumsi secara berlebihan, melainkan dengan lebih bertanggung jawab,” papar Chairy.