News

Kejam! 5 Kisah Dokter yang Mutilasi Pasien Sendiri, Gemar Potong Klitoris

Dokter bedah digugat oleh para pasien wanitanya karena mengubah vulva mereka tanpa persetujuan.


Kejam! 5 Kisah Dokter yang Mutilasi Pasien Sendiri, Gemar Potong Klitoris
Gambar hanya untuk ilustrasi (St.Louis Record)

AKURAT.CO  Dokter kerap diidentikkan seperti pahlawan atau bahkan malaikat. Anggapan ini kerap muncul lantaran sebagai ahli medis, mereka banyak bekerja untuk masyarakat. Menggunakan keterampilan untuk menyembuhkan penyakit hingga mengadakan operasi rumit, dokter-dokter ini jelas telah membuat dampak positif.

Sayangnya, tak semua dokter adalah malaikat. Barangkali ini kalimat yang cocok disematkan untuk beberapa dokter yang mengingkari sumpah sucinya. 

Pada kenyataannya, tak jarang dokter melanggar kode etik, melakukan malapraktik demi uang atau mungkin kepuasan pribadi. Beberapa profesional medis bisa dengan tega melukai orang-orang yang seharusnya mereka rawat, membuat korban terluka, cacat, lumpuh, atau bahkan terbunuh.

baca juga:

AKURAT.CO pada Senin (27/6) menghimpun kisah mengiris hati, di mana dokter justru memutilasi pasiennya sendiri.

1. Kasus 'Dokter bedah cinta', James C. Burt

Kejam 5 Kisah Dokter yang Mutilasi Pasien Sendiri, Gemar Potong Klitoris - Foto 1
 LITERARY HUB

James Caird Burt adalah seorang ginekolog Amerika yang terkadang dijuluki dengan sebutan 'Dokter Bedah Cinta'. Setelah praktik selama dua dekade di Dayton, Ohio, Burt tersandung skandal mengejutan. Ia digugat oleh para pasien wanitanya karena mengubah vulva mereka tanpa persetujuan.

Sepak terjang Burt bisa ditelurusi lewat bukunya, di mana pada tahun 1975, ia menerbitkan 'Surgery of Love'. Di buku itu, Burt pada dasarnya mengeklaim bahwa wanita secara struktural tidak memadai untuk hubungan seksual. Ini adalah kondisi patologis yang bisa dioperasi, kata dokter itu.

Burt pun mengeklaim bahwa operasinya mampu menyulap wanita menjadi seperti 'tikus kecil yang terangsang'. Namun, operasi yang dimaksud Burt sering kali termasuk melepas tudung klitoris pasien, memposisi ulang vagina, memindahkan uretra, dan bahkan mengubah dinding antara rektum dan vagina. 

Prosedur operasi itu dilakukan Burt terhadap ratusan pasien wanitanya, dan lagi, tanpa sepengetahuan atau persetujuan mereka. 

Kasus itu ikut dibongkar oleh Cheryl Dillon, yang sempat pergi ke Burt karena masalah kandung kemih. Saat itu, Dillon dirayu Burt untuk menjalani histerektomi atau pengangkatan rahim (uterus) dan leher rahim (serviks). Terbujuk, Dillon mengiyakan saran Burt. Namun, dia tak akan pernah menyangka bahwa dokter itu melakukan lebih banyak prosedur.