News

Kejagung Tetapkan Dua Tersangka Korupsi Keuangan PT Askrindo Mitra Utama

Terhadap kedua tersangka sudah dilakukan penahanan selama 20 hari


Kejagung Tetapkan Dua Tersangka Korupsi Keuangan PT Askrindo Mitra Utama
Kapuspenkum Kejagung Leonard Eben Ezer (Dok. Puspenkum)

AKURAT.CO, Kejaksaan Agung menetapkan dua orang sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengelolaan keuangan PT Askrindo Mitra Utama (AMU).

Kedua tersangka yakni mantan Direktur Pemasaran PT AMU Wahyu Wisambodo, dan mantan Direktur Kepatuhan dan SDM Firman Berahima.

"Untuk mempercepat proses penyidikan, selanjutnya terhadap dua tersangka dilakukan penahanan selama 20 hari terhitung sejak 27 Oktober 2021 sampai dengan 15 November 2021 di Rumah Tahanan Negara Salemba Cabang Kejaksaan Agung," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Leonard Eben Ezer di Gedung Kejagung, Jakarta, Rabu (28/10/2021).

Wahyu Wisambodo dan Firman Berahima ditetapkan sebagai tersangka setelah penyidik menemukan cukup bukti tindakan melawan hukum oleh keduanya dalam pengelolaan keuangan PT AMU.

Penetapan Wahyu Wisambodo sebagai tersangka berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: Print-25/F.2/Fd.2/10/2021 tanggal 27 Oktober 2021 dan Surat Penetapan Tersangka Nomor: TAP-32/F.2/Fd.2/10/2021 tanggal 27 Oktober 2021. 

Adapun Firman Berahima berstatus tersangka berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: Print-36/F.2/Fd.2/10/2021 tanggal 27 Oktober 2021 dan Surat Penetapan Tersangka Nomor: TAP-33/F.2/Fd.2/10/2021 tanggal 27 Oktober 2021.

Dalam kontruksi perkara dugaan korupsi pengelolaan keuangan PT. Askrindo Mitra terjadi dalam kurun waktu antara tahun 2016-2020. Dalam kurun waktu itu, terdapat pengeluaran komisi agen dari PT Askrindo kepada PT AMU yang merupakan anak usaha Askrindo secara tidak sah.

Pengeluaran komisi dilakukan dengan cara mengalihkan produksi langsung PT Askrindo menjadi seolah-olah produksi tidak langsung melalui PT AMU (indirect) yang kemudian sebagian di antaranya dikeluarkan kembali ke oknum di PT Askrindo secara tunai seolah-olah sebagai beban operasional.

Semua tindakan itu tanpa didukung dengan bukti pertanggungjawaban atau dilengkapi dengan bukti pertanggungjawaban fiktif sehingga menimbulkan kerugian keuangan negara.

Dalam perkara dimaksud penyidik telah mengamankan dan melakukan penyitaan sejumlah uang share komisi sejumlah Rp 611.428.130 dan US$ 762.900 dan SGD 32.000 atau setara dengan Rp 10,3 miliar, serta 32 ribu dolar Singapura atau senilai Rp 336,7 juta.

"Saat ini sedang dilakukan penghitungan kerugian negara oleh Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP)," ujar Leo.

Wahyu Wisambodo disebut telah meminta, menerima, dan memberi bagian share komisi yang tidak sah dari PT AMU. Sementara tersangka Firman Berahim diduga mengetahui dan menyetujui pengeluaran beban operasional PT AMU secara tunai tanpa melalui permohonan resmi dari pihak ketiga yang berhak dan tanpa didukung dengan bukti pertanggungjawaban atau dilengkapi dengan bukti pertanggungjawaban fiktif.

Kemudian membagi dan menyerahkan share komisi yang ditarik secara tunai di PT AMU Pusat kepada empat orang di PT Askrindo.

Terhadap dua tersangka tersebut dikenakan Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-undang Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) 31/1999-20/2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1, Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

"Untuk tersangka lain dalam kasus ini, tim penyidikan di Jampidsus akan tetap mendalami adanya dugaan-dugaan keterlibatan oknum-oknum penerima share komisi fiktif, baik di PT Askrindo maupun di anak perusahaannya di PT AMU," terang Leo.[]