News

Kejagung Tetapkan Dua Tersangka Baru Korupsi Perum Perindo

Pada pekan lalu tim penyidik Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus telah menetapkan tiga tersangka.


Kejagung Tetapkan Dua Tersangka Baru Korupsi Perum Perindo
Mantan Direktur Utama Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Perum Perindo) Syahril Japarin saat digelandang petugas menuju tahanan. (Dok. Puspenkum)

AKURAT.CO, Kejaksaan Agung menambah dua tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Perum Perindo) periode 2016-2019. Pada pekan lalu, tim penyidik Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus telah menetapkan tiga tersangka.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung Leonard Eben Ezer Simanjuntak mengatakan hari ini penyidik kembali menetapkan dua tersangka. Dia adalah Syahril Japarin, mantan Direktur Utama Syahril Japarin merupakan Direktur Utama Perum Perindo periode 2016-2017.

"Saat ini yang bersangkutan bekerja sebagai Deputi Bidang Pengusahaan Sarana Usaha Badan Pengusahaan (BP) Batam," kata Leo saat merilis di Gedung Bundar Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu (28/10/2021).

Selain Syahril, penyidik Kejaksaan Agung juga menetapkan satu tersangka Riyanto Utomo, menjabat sebagai Direktur Utama PT Global Prima Santosa.

"Untuk mempercepat proses penyidikan dilakukan penahanan selama 20 hari," kata Leo.

Leo menjelaskan peran Syahril dan Riyanto dalam perkara ini.  Pada saat menjabat sebagai Direktur Utama Perum Perindo menerbitkan surat hutang jangka menengah (MTN) dan mendapatkan dana sebesar Rp200 miliar, terdiri atas sertifikat Seri Jumbo A dan Seri Jumbo B tahun 2017.

MTN merupakan salah satu upaya mendapatkan dana dengan cara menjual prospek. Namun, penggunaan dana MTN tidak dipergunakan sebagaimana peruntukannya.

"MTN Seri A dan Seri B sebagaimana dimaksud, sebagian besar digunakan bisnis perdagangan ikan yang dikelola oleh Divisi Penangkapan, Perdagangan dan Pengelolaan (P3) Perum Perindo atau Strategi Bisnis Unit (SBU), Fish Trip and Procesing (FPP) dalam menggunakan metode bisnis perdagangan ikan tersebut yaitu metode jual beli ikan putus," kata Leo.

Sedangkan tersangka Ryanto Utomo merupakan salah satu pihak yang mengadakan kerja sama perdagangan ikan dengan menggunakan transaksi-transaksi fiktif yang dilakukan Perum Perindo tanpa adanya perjanjian kerja sama.

"Kemudian tidak adanya berita acara serah terima barang, tidak ada laporan jual beli ikan, dan tidak ada dari pihak Perum Perindo yang ditempatkan dalam penyerahan ikan dari pemasok kepada mitra bisnis Perum Perindo," ujar Leo.

Sementara tiga orang yang telah ditetapkan tersangka adalah mantan Vice President Divisi P3 Perum Perindo Wenny Prihatini, Direktur PT Prima Pangan Madani Lalam Sarlam, dan Direktur PT Kemilau Bintang Timur Nabil M Basyuni.[]