News

Kejagung Diminta Usut Dugaan Korupsi Tata Kelola Tiket Garuda

Disinyalir ada kerjasama pihak ketiga yang diduga ikut menikmati justru pihak ketiga bukan Garuda


Kejagung Diminta Usut Dugaan Korupsi Tata Kelola Tiket Garuda
Petugas Garuda Indonesia Maintenance Facilities (GMF AeroAsia) melakukan pemeriksaan pesawat di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, Senin (30/7/2018). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Kejaksaan Agung (Kejagung) bakal membongkar kasus dugaan korupsi akut di PT Garuda Indonesia. Tak hanya kemahalan sewa pesawat Garuda jenis ATR, tetapi juga tidak menutup kemungkinan adanya dugaan penyelewengan lain dalam tata kelola BUMN penerbangan itu.

Direktur Penyidikan Kejagung Supardi mengatakan, saat ini timnya masih fokus pada mengungkap dugaan korupsi pengadaan pesawat jenis ATR. Adapun dugaan penyelewangan tatakelola akan dilakukan setelah penyidikan pengadaan pesawat ATR rampung.

"Masih konsen di pesawat, dugaan lain seperti tiket belum sampai ke sana (dugaan korupsi tata kelola tiket)," kata Supardi saat dikonfirmasi terkait pernyataan Menteri BUMN, Erick Thohir yang menduga  adanya penyimpangan tata kelola penjualan tiket Garuda beberarapa waktu lalu.

baca juga:

Sebelumnya, Erick menduga korupsi selain pengadaan pesawat, seperti mahalnya harga tiket juga ikut memperparah bangkrutnya maskapai nasional ini.

Sebab, keuntungan mahalnya harga tiket diduga tak masuk ke perusahaan atau BUMN tapi dinikmati pihak lain.

Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) juga mendukung langkah Kejagung dalam menelisik dugaan korupsi lain di Garuda.

Koordinator MAKI Boyamin Saiman mengatakan, Kejagung sudah mulai menyidik dugaan korupsi Garuda dari sisi kemahalan sewa pesawat ATR. Kasus ini bisa membuka pintu korupsi yang lain. Seperti mahalnya tiket garuda, apakah itu benar-benar masuk ke kas Garuda dan keuntungan BUMN.

Apalagi, disinyalir ada kerja sama pihak ketiga yang diduga ikut menikmati justru pihak ketiga bukan Garuda. Sementara di platform lain seperti Traveloka dan lainnya hanya sharing komisi. Seperti di maskapai lain itu langsung masuk ke perusahaan maskapai.

"Nah kasus Garuda apakah ada alur lain, misalnya dari Traveloka masuk ke perusahaan X kemudian baru masuk ke Garuda. Mahalnya tiket itu, betul-betul dinikmati Garuda atau ada pihak lain yang ikut menikmati. Nah kalau ada pihak lain yang menikmati, maka patut diduga ada korupsi," kata Boyamin kepada AKURAT.CO, Minggu (6/2/2022).