Ekonomi

Kedaulatan Pangan Jauh dari Harapan, Petani Masih Akrab dengan Kemiskinan Hingga Kelaparan!

Tanggal 16 Oktober diperingati sebagai Hari Pangan Sedunia setiap tahunnya


Kedaulatan Pangan Jauh dari Harapan, Petani Masih Akrab dengan Kemiskinan Hingga Kelaparan!
Petani mengayak gabah kering hasil panen di Kampung Budaya Sindang Barang RW 08, Desa Pasir Eurih, Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (5/9/2020). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Tanggal 16 Oktober diperingati sebagai Hari Pangan Sedunia setiap tahunnya. Ini sebagai penanda pentingnya pangan untuk selalu tersedia, cukup, terjangkau, aman dan bergizi sepanjang waktu bagi seluruh umat manusia. Pada 1974, Food and Agriculture Organization (FAO), Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mempromosikan konsep ketahanan pangan (food security).

Setiap tahunnya FAO bersama badan PBB lainnya melaporkan kondisi ketahanan pangan dan gizi di seluruh dunia (State of Food Security and Nutrition in The World – SOFI). Isinya mengenai perkembangan tingkat capaian ketahanan pangan yang secara umum diukur dari angka kelaparan dan kekurangan gizi penduduk dunia. 

Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih memaparkan laporan SOFI 2021 menunjukkan, pada tahun 2020 terdapat 811 juta orang di dunia menghadapi kelaparan  atau 161 juta lebih banyak orang menghadapi kelaparan dibandingkan tahun 2019. Kondisi ini juga tidak terlepas dari pandemi Covid-19 di seluruh dunia sejak akhir 2019.

Direktur FAO juga menyebutkan, 97 juta orang lebih pindah ke kemiskinan ekstrim pada tahun 2020. Sementara di Indonesia terdapat 16,8 juta orang yang kelaparan pada 2018 - 2020.

"Situasi pangan yang buruk ini sebetulnya menunjukkan konsep ketahanan angan adalah salah dan tidak berhasil dalam penerapannya.  Ini juga menunjukkan kegagalan sistem pangan global saat ini," kata Henry lewat keteragannya, Sabtu (16/10/2021).

Henry menjelaskan, La Via Campesina (Gerakan Petani Internasional) dimana SPI sebagai anggotanya sudah menyatakan kegagalan ketahanan pangan tersebut dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pangan Dunia FAO di Roma pada tahun 1996. Menurut La Via Campesina, gagasan sempit tentang “ketahanan pangan” mendominasi lingkaran pemerintahan dan pembuat kebijakan. 

"Mulia dalam niatnya, ketahanan pangan memperlakukan mereka yang terkena dampak kelaparan sebagai objek belas kasih, berisiko mengurangi mereka menjadi konsumen pasif dari makanan yang diproduksi di tempat lain. Meskipun mengakui pangan sebagai hak asasi manusia yang fundamental," katanya.

Henry menerangkan, sebagai solusi dari kegagalan Ketahanan Pangan, La Via Campesina dalam KTT Pangan Dunia 1996 mengajukan konsep kedaulatan Pangan. Ini untuk menekankan sentralitas produsen pangan skala kecil, akumulasi kearifan dari generasi ke generasi, otonomi dan keragaman masyarakat pedesaan dan perkotaan dan solidaritas antar masyarakat, sebagai komponen penting untuk menyusun kebijakan seputar pangan dan pertanian. 

"Dalam dekade berikutnya, gerakan sosial dan aktor masyarakat sipil bekerja sama untuk mendefinisikan kedaulatan pangan lebih lanjut“sebagai hak masyarakat atas pangan yang sehat dan sesuai secara budaya yang diproduksi melalui metode yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, dan hak mereka untuk menentukan sistem pangan dan pertanian mereka sendiri," terangnya.