News

Kecelakaan Mobil Tesla Tewaskan 2 Orang, Salah Pengendara atau Fitur Autopilot?

Terjadi kecelakaan di Texas yang menimpa mobil Tesla dengan tidak ada seorang pun yang duduk di kursi pengemudi


Kecelakaan Mobil Tesla Tewaskan 2 Orang, Salah Pengendara atau Fitur Autopilot?
Insiden pada Minggu (18/4) tampaknya menjadi kecelakaan fatal pertama di mana tak ada pengemudi duduk di kursi sopir (Foto: Twitter/MattKHOU)

AKURAT.CO, Otoritas Texas, Amerika Serikat (AS), mengungkapkan insiden kecelakaan yang menimpa sebuah mobil Tesla yang menabrak sebuah pohon, lalu terbakar. Diketahui tak ada seorang pun yang duduk di bangku pengemudi mobil tersebut. Dua orang dilaporkan tewas dalam insiden ini.

Dilansir dari The Verge, kecelakaan ini terjadi pada Minggu (18/4) sekitar jam 9 malam waktu setempat di Spring, Texas. Penyebabnya pun masih diselidiki. Petugas penyelamat bahkan harus menggunakan 30 ribu galon air selama 4 jam untuk memadamkan api karena baterai Tesla terus menyala kembali. Otoritas pun mencoba menghubungi Tesla untuk meminta saran cara pemadaman apinya. Namun, tidak jelas apakah perusahaan itu menanggapinya.

Menurut laporan awal, mobil tersebut melaju dengan kecepatan tinggi dan gagal berbelok, sehingga keluar jalan hingga menabrak pohon. Salah satu pria yang tewas duduk di kursi penumpang depan, sedangkan yang satunya lagi duduk di kursi belakang.

Menurut keterangan Polisi Wilayah Harris Mark Herman, tidak ada yang menyetir mobil listrik keluaran tahun 2019 ini saat kecelakaan terjadi. Belum jelas apakah mobil itu mengaktifkan fitur bantuan swakemudi.

Sementara itu, perusahaan Tesla belum memberikan komentarnya pada Minggu (18/4). Namun, CEO Tesla Elon Musk mengunggah twit pada Senin (19/4) bahwa rekaman data telah dipulihkan sejauh ini. Menurut data tersebut, fitur Autopilot tidak menyala saat kecelakaan. Bahkan, sang pemilik mobil tidak membeli opsi 'Swakemudi Penuh' dari perusahaan untuk mendapatkan izin penggunaan fitur Autopilot di jalanan lokal.

 

Setidaknya ada 23 kecelakaan terkait Autopilot yang masih dalam penyelidikan Administrasi Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional. Namun, insiden ini tampaknya menjadi kecelakaan fatal pertama di mana tak ada pengemudi duduk di kursi sopir.

Sebelumnya, Tesla telah memperingatkan pelanggannya bahwa Autopilot bukanlah sistem penggerak otonom dan masih membutuhkan perhatian terus-menerus ke jalan saat digunakan. Mobil perusahaan hanya memeriksa perhatian tersebut dengan sensor yang mengukur torsi di roda kemudi. Celah inilah yang kemudian disalahgunakan. Dewan Keselamatan Transportasi Nasional pun telah menegur Tesla tahun lalu.

Tesla sebelumnya telah memberikan panduan bagi tim penyelamat untuk menghadapi kebakaran yang melibatkan baterai EV-nya. Penyalaan kembali baterai pun bisa menjadi masalah. Pasalnya, berbeda dari kendaraan bertenaga gas, baterai EV tetap memiliki energi yang tersimpan meski apinya dipadamkan. Menurut panduan Tesla, lebih baik membiarkan apinya padam sendiri daripada terus mencoba memadamkannya.

Di masa lalu, Musk telah menolak desakan tim insinyur Tesla untuk menambahkan pemantauan keamanan yang lebih baik saat kendaraan dalam Autopilot, seperti kamera pendeteksi mata atau sensor tambahan di roda kemudi. Namun, ia berdalih teknologinya sudah efektif.

Pada 2018, Musk juga berjanji bahwa Tesla akan rutin merilis pembaruan data keamanan pada fitur Autopilot-nya. Ia pun menyalahkan liputan pers yang negatif, sehingga pelanggan terhasut untuk tidak menggunakannya.

"Ketika ada kecelakaan serius, kasusnya hampir selalu menimpa pengguna yang berpengalaman. Padahal, masalahnya cenderung pada kepuasan diri. Mereka terlalu terbiasa dengan itu. Jadi, masalahnya bukan pada kurangnya pemahaman soal apa yang dapat dilakukan Autopilot. Pengemudi berpikir mereka tahu lebih banyak tentang Autopilot daripada kenyataannya," kata Musk pada Mei 2018.[]

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu