News

Kecelakaan Lalu Lintas Ternyata Bisa Jadi Indikator Pemerintahan Korup, Begini Penjelasannya

Salah satu faktor yang bisa sangat menghubungkan korupsi dan pengemudi adalah 'pendapatan'.


Kecelakaan Lalu Lintas Ternyata Bisa Jadi Indikator Pemerintahan Korup, Begini Penjelasannya
James O'Malley sempat menunjukkan korelasi antara jumlah kematian lalu lintas di suatu negara dengan korupsi di pemerintahannya. (QUARTZ)

AKURAT.CO, Biasanya warga awam akan berpikir jika pemerintahan korup pastilah dijejali oleh kemiskinan hingga pejabat yang korup. Namun, bagaimana dengan indikator lain, seperti fenomena carut marutnya lalu lintas? 

Meski terdengar kurang familiar, tetapi buruknya lalu lintas atau jalanan yang diisi pengemudi ugal-ugalan justru bisa jadi indikator pemerintahan korup.

Seperti analisis yang diolah oleh organisasi berita internasional Quartz pada April 2016 lalu. Quartz jelas menyebut ada hubungan nyata antara kecelakaan lalu lintas dengan negara korup. 

Saat itu, jurnalis Quartz, Christopher Groskopf, awalnya menggambarkan bagaimana tiap tahunnya, kecelakaan lalu lintas bisa membunuh sekitar 1,25 juta orang.

Namun, dari data itu, justru ditemukan ketidakproporsionalan jumlah kematian di negara berpenghasilan rendah dan menengah. 

Karena inilah, Groskopf ikut menyertakan informasi menggelitik yang pernah dijabarkan oleh penulis CityMetric, James O'Malley.

Tulisan O'Malley itu tidak lain menunjukkan korelasi antara jumlah kematian lalu lintas di suatu negara dengan kasus korupsi pemerintahannya.

Sebagai contoh, O'Malley menggunakan Rumania, negara berpenghasilan menengah yang berjuang untuk memberantas korupsi. Namun, contoh yang lebih baik mungkin adalah Thailand, yang memiliki tingkat kematian lalu lintas tertinggi di dunia dan di mana korupsi mengoyak kesepakatan perdagangan internasional.

Atau Iran yang memiliki kematian hampir sama banyaknya dan di mana tekanan dari sanksi diklaim telah menghasilkan skema miliaran dolar. 

Melihat data itu, mungkin banyak orang akan menganggap sinis dan berpikir bahwa korelasi lalu lintas buruk dan negara korupsi adalah 'palsu'.

Namun, Groskopf menegaskan bahwa O'Malley bukanlah orang pertama yang melakukan observasi tentang korelasi tersebut. Dari sinilah, diketahui bagaimana pada kenyatannya, para akademisi dan peneliti pemerintah menyatakan  kesimpulan yang sama. 

Itu tidak lain adalah 'ada hubungan jelas antara kecelakaan lalu lintas dan korupsi di sebuah negara'.

"Faktanya, akademisi dan peneliti pemerintah telah menulis banyak makalah yang mencoba menjelaskan hubungan antara korupsi dan kecelakaan lalu lintas. Kesimpulan mereka tidak seragam, tetapi bersama-sama mereka menyajikan kasus yang meyakinkan bahwa ada hubungan nyata antara keduanya," tulis Groskopf dalam artikel bertajuk 'Pengemudi yang Buruk adalah Indikator yang Baik dari Pemerintahan yang Korup'.

Lalu mengapa bisa demikian?

Groskopf menjelaskan bahwa ada salah satu faktor yang bisa sangat menghubungkan korupsi dan pengemudi. Itu adalah 'pendapatan'.

Tingkat kematian kendaraan bermotor memiliki hubungan U terbalik dengan pendapatan. Negara-negara miskin mencatat sedikit korban jiwa. Ketika mereka menjadi lebih kaya, kematian meningkat hingga pendapatan mencapai tingkat kritis, setelah itu kematian mulai menurun lagi. 

Satu studi menempatkan titik balik itu antara USD10-11 ribu (Rp144-159 juta) per kapita. Sebagai hasil dari hubungan umum dengan pendapatan ini, kematian lalu lintas dan korupsi akan selalu berkorelasi.

Namun, itu bukanlah keseluruhan cerita. Korupsi dapat bervariasi secara independen dari pendapatan. Sebuah studi tahun 2010 menemukan bahwa tingkat korupsi di suatu negara dapat memoderasi atau meningkatkan efek pendapatan pada kecelakaan lalu lintas.

Hubungannya tidak linier. Negara miskin dengan tingkat korupsi yang tinggi relatif lebih aman bagi pengemudi, sedangkan negara kaya dengan tingkat korupsi yang tinggi memiliki jalan yang lebih berbahaya daripada yang seharusnya.

Para penulis mengidentifikasi dengan beberapa cara bahwa korupsi dapat memengaruhi risiko kecelakaan, seperti dengan merusak pembangunan infrastruktur, membatasi kesempatan untuk kemajuan ekonomi, atau menghambat penegakan hukum. 

Ini yang terakhir diidentifikasi oleh O’Malley. Ada negara di mana polisi tidak berdaya atau tidak mau menegakkan hukum, dan akibatnya pengemudi cenderung mengabaikannya.

Studi 2010 lainnya menemukan korelasi serupa antara tata kelola dan kematian lalu lintas, dan kemudian melanjutkan dengan melihat faktor budaya juga.

Nilai-nilai budaya tertentu, seperti otonomi intelektual, dipandang dapat mengurangi korban jiwa lalu lintas. Yang lainnya, seperti memiliki struktur sosial hierarkis, membuatnya lebih umum. Tata kelola yang baik terbukti menjadi moderator yang efektif dari beberapa nilai yang jika tidak dapat meningkatkan kematian. Di negara-negara dengan pemerintahan yang tidak efektif, pengaruh budaya negatif kemungkinan besar akan lebih terasa.

Tak satu pun dari korelasi ini dapat sepenuhnya menjelaskan mekanisme bagaimana korupsi memengaruhi kematian lalu lintas. Namun, banyak analisis yang berbeda, menggunakan kumpulan data yang berbeda, mendukung gagasan bahwa keduanya terhubung.

Intinya: Jika Anda berada di negara di mana semua orang mengemudi di trotoar dan tidak ada yang berhenti di rambu berhenti, Anda dapat yakin bahwa pemerintah tidak berfungsi dengan baik, kata Groskopf.[]

Ahada Ramadhana

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu