News

Kecam 'Perang Tolol' di Ukraina, Oposisi Kremlin Alexei Navalny Sumpahi Putin Masuk Neraka

Alexei Navalny menyebut Vladimir Putin orang gila yang memulai 'perang tolol' yang membantai orang-orang tak bersalah di Ukraina dan Rusia.


Kecam 'Perang Tolol' di Ukraina, Oposisi Kremlin Alexei Navalny Sumpahi Putin Masuk Neraka
Gagal mengajukan banding, Alexei Navalny memanfaatkan pledoinya di pengadilan Moskow untuk mengecam pedas Putin dan perangnya. (REUTERS)

AKURAT.CO Pemimpin oposisi Rusia yang dibui, Alexei Navalny, mengecam Presiden Vladimir Putin pada Selasa (24/5). Ia menyebutnya orang gila yang memulai 'perang tolol' yang membantai orang-orang tak bersalah di Ukraina dan Rusia, dilansir dari Reuters.

Gagal mengajukan banding terhadap hukuman 9 tahun terakhirnya, Navalny memanfaatkan pledoinya di pengadilan Moskow untuk mengecam pedas Putin dan perangnya. Aksi semacam ini langka di Rusia karena mengkritik tentara dan 'operasi militer khusus' di Ukraina merupakan pelangggaran pidana.

Menurut Navalny, para pemimpin Rusia pada akhirnya akan dihancurkan oleh kekuatan sejarah dan dibakar di neraka karena menciptakan pertumpahan darah di Ukraina.

baca juga:

"Inilah perang tolol yang dimulai oleh Putin Anda. Perang ini dibangun di atas kebohongan. Satu orang gila telah menancapkan cakarnya ke Ukraina dan entah apa yang ingin dilakukan pencuri gila ini selanjutnya," kecamnya kepada pengadilan banding di Moskow melalui tautan video dari koloni hukuman korektif.

Hakim sontak berulang kali menyela pria 45 tahun ini.

Pemimpin oposisi paling terkemuka di Rusia ini mengajukan banding atas hukuman penjara 9 tahun yang ia terima pada bulan Maret atas pasal penipuan dan penghinaan terhadap pengadilan. Ia sendiri telah menjalani 2,5 tahun hukuman.

Navalny menyangkal semua tuduhan terhadapnya. Menurutnya, tuduhan itu dibuat untuk menggagalkan ambisi politiknya. Bandingnya pun ditolak oleh pengadilan.

Mantan pengacara ini menjadi terkenal lebih dari 1 dekade lalu dengan mencerca elite Putin dan menyuarakan tuduhan korupsi besar-besaran. Ia sudah lama memprediksi potensi gejolak politik Rusia melalui pemberontakan.

Navalny menuai perhatian karena secara sukarela kembali ke Rusia pada 2021 dari Jerman, tempat ia menjalani perawatan atas tes laboratorium Barat akibat upaya untuk meracuninya dengan agen saraf di Siberia. Setibanya di tanah air, ia dipenjara. Rusia sendiri menyangkal klaim Navalny bahwa polisi rahasia Rusia meracuninya dengan Novichok.