Rahmah

Kebolehan Merayakan Maulid Nabi Memiliki Argumen yang Kuat, ini Buktinya

Dalil maulid Nabi diafirmasi Islam dengan dalil naqli dan 'aqli


Kebolehan Merayakan Maulid Nabi Memiliki Argumen yang Kuat, ini Buktinya
Perayaan maulid nabi (pexels.com/raynl)

AKURAT.CO Sebagian orang mengklaim bahwa merayakan maulid nabi hukumnya adalah haram atau bid'ah sayyi'ah karena dianggap tidak pernah dilakukan oleh Nabi. Tidak hanya menganggap bid'ah bagi diri sendiri, kadang juga menganggap orang lain sesat.

Pandangan demikian tentu saja tidak sesuai dengan cara pandang Islam. Karena sebetulnya, sangat banyak dalil-dalil yang mengafirmasi peringatan hari kelahiran manusia agung Muhammad SAW.

Jika kita meminjam penjelasan Gus Baha, bahwa, bila kita memperingati hari lahir anak sendiri, yang merupakan orang biasa-biasa saja, dianggap boleh, mengapa merayakan hari lahir sosok seperti nabi dianggap haram dan bid'ah? Sehingga menurut beliau, tidak masuk akal klaim yang menyatakan maulid adalah bid'ah.

Selain itu dijelaskan di dalam website Majelis Ulama Indonesia (MUI), bahwa maulid Nabi hukumnya adalah bid'ah hasanah. Bid’ah Hasanah adalah sesuatu yang tidak dilakukan oleh Nabi maupun para sahabatnya namun perbuatan itu memiliki nilai kebaikan dan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits. 

Sedangkan bid’ah dhalalah adalah perbuatan baru dalam agama yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Posisi memperingati maulid Nabi masuk dalam kategori bid'ah hasanah karena apa-apa yang dilakukan di dalamnya berupa amalan-amalan kebaikan.

Kebolehan memperingati Maulid Nabi juga pada dasarnya memiliki argumentasi syar’i yang kuat. Seperti Rasulullah SAW merayakan kelahiran dan penerimaan wahyunya dengan cara berpuasa setiap hari kelahirannya, yaitu setiap hari senin Nabi SAW berpuasa untuk mensyukuri kelahiran dan awal penerimaan wahyunya.

Disebutkan di dalam sebuah riwayat, sebagai berikut:

عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ” : فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ .” رواه مسلم

Artinya: "Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku”. (H.R. Muslim).

MUI juga menegaskan bahwa untuk menjaga agar perayaan maulid Nabi SAW tidak melenceng dari aturan agama yang benar, dan tidak dikatakan bid'ah yang sesat, sebaiknya perlu diikuti etika-etika berikut: