Ekonomi

Kebijakan Zero Covid di China, Penjualan Ritel Susut 11,1 Persen pada April

Penjualan ritel pada April menyusut 11,1% dari tahun sebelumnya, kontraksi terbesar sejak Maret 2020, menurut data dari Biro Statistik Nasional (NBS).


Kebijakan Zero Covid di China, Penjualan Ritel Susut 11,1 Persen pada April
Shanghai Lockdown (Reuters)

AKURAT.CO, Aktivitas ritel dan pabrik China turun tajam pada April karena lockdown skala penuh untuk melawan COVID-19 yang luas, dengan membatasi pekerja dan konsumen untuk tetap di rumah mereka, mmemberikan bayangan panjang atas prospek ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

Lockdown skala penuh mulai diberlakukan di kota-kota yang memiliki konsentrasi yang cukup besar, dan dimulai pada bulan Maret dan April, termasuk kota terpadat Shanghai, yang menjadikan produksi dan konsumsi ikut terdampak dan meningkatkan risiko bagi perekonomian secara global yang mana beberapa negara sangat bergantung pada China.

Penjualan ritel pada April menyusut 11,1% dari tahun sebelumnya, kontraksi terbesar sejak Maret 2020, menurut data dari Biro Statistik Nasional (NBS) pada Senin (16 Mei), penurunan yang lebih tajam dari perkiraan dalam jajak pendapat Reuters.

baca juga:

Produksi pabrik turun 2,9 % dari tahun sebelumnya, mematahkan ekspektasi untuk kenaikan dan penurunan terbesar sejak Februari 2020, karena langkah-langkah anti-virus melumpuhkan rantai pasokan dan melumpuhkan distribusi.

Beberapa analis bahkan memperingatkan turunnya aktivitas di China saat ini mungkin lebih sulit untuk dihilangkan daripada yang terlihat selama awal pandemi virus corona pada awal 2020, dengan ekspor tidak mungkin naik lebih tinggi.

 "Hasil sementaranya adalah yang terburuk, mudah-mudahan berakhir, kami pikir ekonomi China akan berjuang untuk kembali ke tren pra-pandemi," kata analis Capital Economics.

Output industri di sekitar Delta Sungai Yangtze, yang meliputi Shanghai, turun 14,1 % pada April, sedangkan di timur laut China menyusut 16,9 %.  Kedua wilayah mengalami penurunan lebih dari 30 % dalam penjualan ritel.

Sejalan dengan penurunan output industri yang secara mendadak ini, menjadikan China haya memproses 11 % lebih sedikit minyak mentah pada April, dengan pencapaian harian terendah sejak Maret 2020. Pada bulan yang sama, pembangkit listrik turun 4,3 persen, terendah sejak Mei 2020.

 "Pada bulan April, epidemi memiliki dampak yang relatif besar pada operasi ekonomi, tetapi dampak ini bersifat jangka pendek dan eksternal," Fu Linghui, juru bicara biro statistik China, mengatakan pada konferensi pers di Beijing pada hari Senin.

Fu mengatakan dia mengharapkan ekonomi membaik pada Mei dengan wabah COVID-19 di Jilin, Shanghai dan tempat-tempat lain mulai terkendali.[]