Ekonomi

Kebijakan Non-Tarif Pengaruhi Perkembangan Industri Mamin Tanah Air

kebijakan non-tarif atau non-tariff measures (NTM) memengaruhi perkembangan industri makanan dan minuman (mamin) di Indonesia


Kebijakan Non-Tarif Pengaruhi Perkembangan Industri Mamin Tanah Air
Pekerja saat mengecek ketersediaan stok barang makanan dan minuman di salah satu gudang e-commerce, Marunda, Jakarta, Senin (16/11/2020). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Kepala Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta mengatakan kebijakan non-tarif atau non-tariff measures (NTM) mempengaruhi perkembangan industri makanan dan minuman (mamin) di Indonesia. Hal ini juga berdampak pada perekonomian Indonesia karena industri mamin berkontribusi sebesar 6,25% terhadap PDB Indonesia tahun 2018, berdasarkan data Kementerian Perindustrian 2019. 

Kontribusi industri mamin terhadap PDB manufaktur nonmigas juga cukup signifikan, yaitu sebesar 39,5% pada triwulan II-2020 berdasarkan data Kementerian Perindustrian 2020. Selama masa pandemi Covid-19, industri ini mempekerjakan sekitar 5 juta orang Indonesia atau 27,6% dari total tenaga kerja manufaktur di Indonesia. Oleh karena itu, industri ini sangat vital bagi pembangunan ekonomi Indonesia.

"NTM dalam perdagangan umum dilakukan banyak negara untuk mendukung tujuan politik dan ekonomi mereka. Namun penggunaan yang berlebihan justru dapat berdampak negatif bagi bisnis, konsumen serta perekonomian mereka secara umum," ucap Felippa, lewat keterangan tertulisnya, Jumat (18/6/2021).

Indonesia merupakan salah satu negara yang paling banyak menggunakan hambatan ini, terutama di sektor pangan dan hasil pertanian. Hal ini berakibat pada tingginya harga pangan sehingga membebani konsumen, menggerogoti daya saing ekspor serta membahayakan ketahanan pangan nasional, demikian diungkapkan

Industri mamin sangat terintegrasi dalam perdagangan global, baik untuk sumber bahan bakunya maupun untuk mengekspor produknya. Industri tersebut memberikan kontribusi nilai ekspor tertinggi di antara industri manufaktur lainnya, yakni mencapai US$13,7 miliar pada semester I-2020, meningkat sebesar 10,2% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Selain itu juga, mengimpor bahan baku senilai US$5,6 miliar pada periode yang sama, berdasarkan Kementerian Perindustrian 2020.

Meningkatnya jumlah NTM di Indonesia dan mitra dagangnya membatasi akses perusahaan ke pasar global dan dapat mengurangi produktivitas, serta daya saing mereka. NTM dapat mempengaruhi perusahaan dan industri dalam dua cara, yaitu dengan meningkatkan biaya input atau dengan menerapkan langkah-langkah saat mengekspor ke negara lain. 

"Mereka membebankan biaya tambahan untuk bisnis melalui biaya penegakan, biaya sumber, dan biaya adaptasi proses," imbuhnya.

Di sisi input, lanjut Felippa, industri mamin masih mengimpor bahan baku karena produksi komoditas dalam negeri seringkali tidak mencukupi kuantitas dan kualitas untuk diproses. Misalnya gandum, bahan utama mie instan, hampir 100 persen bersumber dari impor karena belum bisa ditanam secara optimal di Indonesia. Meski Indonesia termasuk dalam lima besar produsen cokelat dunia, produsen cokelat di Indonesia juga harus mengandalkan biji kakao impor karena rendahnya kualitas biji kakao Indonesia.

“Terlepas dari kelangkaan bahan baku untuk keperluan industri, perusahaan juga harus melalui proses perizinan impor yang rumit dan menunggu pelepasan kuota impor oleh kementerian terkait, termasuk Kementerian Perindustrian. Banyak NTM yang dikenakan pada bahan pangan dan pertanian untuk keperluan industri, seperti dalam kasus gula, dimaksudkan untuk mendorong keterkaitan ke belakang dengan ekonomi dalam negeri, untuk memprioritaskan produksi dalam negeri, dan untuk meningkatkan nilai tambah dalam negeri. Namun dampaknya seringkali tidak efektif,” jelas Felippa.

Prabawati Sriningrum

https://akurat.co