Ekonomi

Kebijakan Lockdown Tiongkok Bikin Investor Kabur, Kok Bisa?

Banyak perusahaan yang sebenarnya baru saja mengalami kerugian jutaan bahkan miliaran dollar akibat terkena imbas dari perang di Ukraina.


Kebijakan Lockdown Tiongkok Bikin Investor Kabur, Kok Bisa?
Potret Shanghai Ketika Penerapan Zero Covid (Reuters/Aly Song)

AKURAT.CO, Kebijakan lockdown Tiongkok sepertinya menjadi ujian bagi para investor dunia. Hal ini karena Tiongkok merupakan pangsa terbesar dan tempat investasi terbesar bagi merek-merek internasional, tidak heran bisnis-bisnis besar menjadi terganggu.

Di sisi lain, banyak perusahaan yang sebenarnya baru saja mengalami kerugian jutaan bahkan miliaran dollar akibat terkena imbas dari perang di Ukraina. Gabungan mimpi buruk tersebut berhasil menciptakan pukulan besar bagi perusahaan multinasional, seperti Estée Lauder (EL), yang minggu lalu menyatakan bahwa lockdown ini memaksanya untuk memangkas proyeksi pendapatannya untuk tahun ini.

"Suka atau tidak, pada titik ini jika Anda adalah perusahaan multinasional, Tiongkok mungkin adalah pasar konsumen terbesar pertama atau kedua," kata Direktur pelaksana konsultan Tiongkok Market Research Group Ben Cavender, dilansir dari CNN, Rabu (11/05/2022).

baca juga:

Selain itu, Ben mengatakan bahwa basis produksi ini berkontribusi atas sejumlah pekerjaan rumah dan rantai pasokan global pada perusahaan asing yang berada di Tiongkok.

"Dan itu mungkin basis produksi utama Anda yang berkontribusi atas sejumlah besar pekerjaan rantai pasokan Anda," sambung Ben dalam sebuah wawancara dari Shanghai, yang telah lockdown selama enam minggu.

Lockdown di Tiongkok telah membuat puluhan juta orang terkurung di rumah selama lebih dari satu bulan. Dalam banyak kasus, penghuni tidak dapat meninggalkan apartemen mereka tanpa izin khusus dari tokoh masyarakat, dan sejumlah besar bisnis tetap tutup.

Pelaku usaha mengatakan telah menerima dampak besar dari penangguhan semua bisnis di Rusia dan Ukraina setelah invasi, yang menyebabkan penurunan penjualan.

Banyak perusahaan yang tidak ingin memberikan prediksinya akibat kebijakan lockdown ini. Minggu lalu bahkan Starbucks sampai menahan target pendapatan keuangan mereka selama enam bulan ke depan, CEO Starbucks, Howard Schultz, menyebutnya sebagai orang yang paling bertanggung jawab yang dapat diambil.

Seperti yang dilansir dari Reuters, dalam beberapa pekan terakhir, lusinan kota di daratan Tiongkok, termasuk pusat keuangan Shanghai, telah dilockdown sebagia upaya pembasmian Covid-19

Penerapan kebijakan tersebut memberikan dampak besar pada industri, mulai dari perusahaan Big Tech hingga produk kebutuhan sehari-hari. Kondisi itu mempengaruhi dua sisi ekonomi sekaligus yakni permintaan dan penawaran hingga membuat para eksekutif kembali pusing kepala.[]

Sumber: CNN Bussines, Reuters