Ekonomi

Gegara Perubahan Iklim, Potensi Kerugian Ekonomi Indonesia bisa Sentuh Rp281,9 Triliun di 2024

Kebijakan ketahanan iklim dinilai mampu menghindari potensi kerugian ekonomi sebesar Rp281,9 triliun hingga 2024 mendatang

Gegara Perubahan Iklim, Potensi Kerugian Ekonomi Indonesia bisa Sentuh Rp281,9 Triliun di 2024
ilustrasi perubahan iklim (bigthink.com)

AKURAT.CO Kebijakan ketahanan iklim dinilai mampu menghindari potensi kerugian ekonomi sebesar Rp281,9 triliun hingga 2024 mendatang. Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Medrilzam mengatakan hal tersebut berdasarkan hasil laporan Indeks Ekonomi Hijau atau Green Economy Index (GEI) 2022.

"Ada potensi kehilangan Rp544 triliun akibat dampak perubahan iklim jika tidak ada intervensi kebijakan, kerugian tersebut berasal dari empat sektor, yakni pesisir dan laut, air, pertanian, dan kesehatan," kata Medrilzam saat media briefing peluncuran laporan Indeks Ekonomi Hijau yang dipantau secara virtual, Selasa (9/8/2022).

Medrilzam mengatakan, kerugian yang dialami dari sisi pesisir dan laut diperkirakan mencapai Rp408 triliun. Sementara dari sektor air sebesar Rp26 triliun, pertanian Rp78 triliun, dan kesehatan Rp31 triliun.

baca juga:

Ia juga meyakini sektor-sektor tersebut punya potensi alami kerugian karena Indonesia mengalami peningkatan bencana hidrometeorologi. Dari paparannya, sekitar 98 sampai 99 persen dari total 5.402 kejadian bencana alam di Indonesia sepanjang 2021 merupakan bencana hidrometeorologi.

Bencana hidrometeorologi sendiri merupakan bencana yang disebabkan oleh adanya fenomena bencana seperti hujan dan badai.

Di sisi lain, dunia juga berhadapan dengan berbagai krisis, salah satunya krisis perubahan iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Hal tersebut tambah diperparah oleh wabah Covid-19 dan ketidakstabilan geopolitik yang sedang berlangsung di kancah global.

"Ini akan membuat setback pembangunan kita, padahal kita sudah punya Visi 2045," jelasnya.

Asal tahu saja, berdasarkan laporan Indeks Ekonomi Hijau atau Green Economy Index (GEI) terungkap bahwa ekonomi hijau dapat meningkatkan pertumbuhan PDB Indonesia rata-rata di angka 6,1 persen sampai dengan 6,5 persen per tahun hingga 2050.

Laporan tersebut disampaikan pada 3rd G20 Development Working Group (DWG) Side Event "Towards Implementation and Beyond: Measuring the Progress of Low Carbon and Green Economy".

Beberapa hal yang ditemukan dari laporan tersebut adalah ekonomi hijau mampu menyelematkan emisi gas rumah kaca (GRK) hingga 87-96 miliar ton pada rentang 2021-2060. Intensitas emisi juga dapat menurun hingga 68 persen di 2045 dengan penerapan ekonomi hijau.

Di sisi lain, Pendapatan Nasional Bruto (PNB) dapat lebih tinggi di rentang 25-34 persen, setara USD13.890 hingga USD14.975 per kapita pada 2045. Ekonomi hijau juga berpotensi menghasilkan tambahan 1,8 juta tenaga kerja di sektor green jobs pada 2030 yang tersebar di sektor energi, kendaraan elektronik, restorasi lahan, dan sektor limbah.[]