Lifestyle

Segala Makanan Digado Pakai Tangan, Penyebab Tsunami Covid di India?

Dengan populasi sekitar 1,4 miliar jiwa, India memiliki  akses terbatas ke air bersih, makanan yang tidak higienis, udara kotor, dan lingkungan padat.


Segala Makanan Digado Pakai Tangan, Penyebab Tsunami Covid di India?
Ilustrasi pedagang makanan jorok di India (ISTUMEWA)

AKURAT.CO India saat ini tengah menghadapi gelombang kedua tsunami corona (Covid-19). Mirisnya, ada sekitar 400 ribu kasus baru setiap harinya.  India juga kembali mencetak rekor harian kematian akibat Covid-19 yakni lebih dari 3.000 jiwaDikatakan jika saat ini India justru menjadi negara dengan penyebaran virus corona terburuk di dunia. Hal inilah yang membuat banyak negara turun tangan membantu India. 

Kasus corona yang terjadi di India ini banyak dikaitkan dengan rendahnya sanitasi dan kebersihan di India. 

Seperti diketahui,   Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan air yang bersih, sanitasi dan kondisi higienis sangat penting untuk perlindungan kesehatan terhadap Covid-19. Oleh sebab itu, kebiasaan seperti rutin mencuci tangan, menggunakan masker, serta penerapan protokol kesehatan yang ketat lainnya wajib dilakukan selama pandemi. 

Sayangnya, hal itu tidak berlaku di India. Ya, sejak dulu India memang dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat kebersihan dan sanitasi terburuk di dunia.   Dengan populasi sekitar 1,4 miliar jiwa, India memiliki sumber daya yang sangat terbatas. Seperti  akses terbatas ke air bersih, mengonsumsi makanan yang tidak higienis, menghirup udara kotor, dan tinggal di lingkungan yang padat.

Bahkan menurut laporan PBB pada 2013,  626 juta orang atau hampir setengah dari populasi India hidup tanpa sanitasi yang memadai.

Faktanya, hanya ada  53 persen dari populasi di India yang mencuci tangan setelah buang air bessar, 38 persen cuci tangan sebelum makan dan hanya 39 persen yang mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan.

Lebih dari 130 juta rumah tangga di India tidak memiliki fasilitas toilet di rumah mereka. 61 persen. Warga pedesaan dan 10 persen warga kota di India sudah biasa buang air besar (BAB) di tempat terbuka.  Kondisi ini  pula membuat pemerintah memutuskan untuk membayar warga untuk menggunakan toilet umum pada 2015. Namun, berbagai faktor membuat program toilet umum ini tidak berjalan dengan baik. 

Fakta terbaru, alat medis yang digunakan untuk mengumpulkan sampel hidung dan tenggorokan untuk pengujian COVID-19 diduga dikemas dalam kondisi tidak higienis. Dalam video yang beredar di media sosial menunjukkan jika para wanita dan anak-anak mengemas tongkat usap yang digunakan dalam tes COVID-19, tanpa mengenakan sarung tangan atau masker. Beberapa alat juga dibiarkan tergeletak di tikar, lantai dan anak-anak memegangnya dengan tangan kosong.

Setiap orang dibayar sekitar 2 Rupee atau sekitar Rp3,884 untuk mengemas setiap 1000 tongkat.

Tak hanya rendah kesadaran akan kebersihan, pemerintah dan masyarakat India juga kurang peduli pada protokol kesehatan.  Pemerintah federal tidak berusaha untuk memberlakukan pembatasan besar untuk menghentikan penyebaran virus.

Terbukti, masyarakat bisa dengan bebas tanpa masker dan aturan jarak saat menghadiri festival keagamaan dan demonstrasi politik. []

Bonifasius Sedu Beribe

https://akurat.co