News

Keberatan Wacana Hukuman Mati, IJW: Implementasi Hukum Masih Transaksional

Direktur Eksekutif Indonesia Justice Watch (IJW) Akbar Hidayatullah keberatan dengan rencana Jaksa Agung yang ingin melanjutkan eksekusi pidana mati.


Keberatan Wacana Hukuman Mati, IJW: Implementasi Hukum Masih Transaksional
Kunker virtual Jaksa Agung Burhanuddin (ISTIMEWA)

AKURAT.CO, Jaksa Agung ST Burhanuddin mewacanakan penerapan hukuman mati bagi terpidana khususnya koruptor. Namun wacana tersebut banyak yang tak setuju diberlakukan saat ini.

Seperti disampaikan Direktur Eksekutif Indonesia Justice Watch (IJW) Akbar Hidayatullah yang keberatan dengan rencana Jaksa Agung yang ingin melanjutkan eksekusi pidana mati. Keberatan IJW bukan soal pelanggaran HAM tapi karena praktik hukum di Indonesia.

"Implementasi hukum kita masih sangat transaksional,” ujar Akbar dalam keterangannya, Jakarta, Jumat (19/11/2021).

Selain itu, kata Akbar, penegakan hukuman mati di Indonesia belum mempunyai pedoman yang jelas. Hal tersebut dinilai dapat menimbulkan ketidakkonsistenan dalam penegakannya.

“Indonesia belum memiliki Sentencing Guideline (pedoman pemidanaan) sehingga sebenarnya mau ikuti teori pemidanaan yang mana? Harus konsisten demi kepastian hukum,” ujar Akbar.

Akbar juga menyoroti belum terwujudnya asas equality before the law dalam sistem pemidanaan Indonesia. Hal tersebut seringkali membuat masyarakat tidak mendapatkan pengadilan yang adil.

Oleh sebab itu, Akbar menyarankan Jaksa Agung untuk terlebih dahulu mengutamakan reformasi internal. Setelah itu, Jaksa Agung dapat mengusulkan adanya perppu moratorium hukuman mati.

“Sehingga memenuhi prinsip kehati-hatian sebagaimana adagium 'Lebih baik membebaskan 1000 orang bersalah, dari pada menghukum 1 orang yang tidak bersalah'” saran Akbar.

Meski begitu, Akbar sebenarnya setuju bahwa implementasi pidana mati khususnya terhadap pelaku kejahatan berat. IJW mengatakan hukuman pidana mati terhadap pelaku kejahatan berat atau luar biasa terlihat memenuhi rasa keadilan sebagian masyarakat.