News

Rengekan Riri Diantara Puing Hitam Sisa Kebakaran di Pasar Kembang

Rengekan Riri Diantara Puing Hitam Sisa Kebakaran di Pasar Kembang
Seekor kucing betina meratapi peristiwa kebakaran yang hanguskan rumah pedagang pasar Kembang, Cikini. Disisi lain, Riri (3) dan bapaknya, Iqbal berteduh dibawah sisa bangunan yang hangus terbakar. (Badri/Akurat.co)

AKURAT.CO, Rengekan Riri (3) begitu menyayat hati neneknya, Haryati (57). "Nek, pulang yok, nek. Pulang,". Berkali-kali ia mengajak neneknya pulang, air mata mengucur deras di pipi sang nenek, reruntuhan puing bangunan rumah yang ditempati haryati dan keluarga ludes dimakan api usai kebakaran melanda Pasar Kembang, Cikini. Haryati sang nenek tak kuasa menjawab rengekan cucunya. Lidahnya kelu. Ia tak tahu harus menjawab apa. 

Bocah kecil itu sibuk saja dengan mainannya. Anak perempuan 3 tahun itu, memilin pelatuk mainan happy meal miliknya. Lalu melepasnya sehingga sirip happy meal berbentuk lumba-lumba itu berputar-putar. Riri telihat hepi. Tapi sang nenek tak juga terhibur dengan tingkah lucu cucunya. 

"Ya Allah dia nggak tau rumahnya udah gosong. Udah nggak ada," ujar Haryati (57) saat berbincang dengan AKURAT.CO di lokasi kebakaran penghuni Pasar Kembang, Cikini, Jalan Cikini Kramat RT 04 RW 01, Cikini, Selasa (27/9/2022). 

baca juga:

Dengan polosnya, gadis kecil itu menunjuk bangunan dua lantai di hadapannya yang kini menghitam terbakar api. Ia duduk di salah satu sudut ditemani ayahnya, Iqbal (34). Ia duduk di sisa bangunan yang ludes terbakar api. 

"Itu rumahku," katanya menunjuk sisa bangunan dua lantai yang hangus terbakar. 

"Rumah kamu udah nggak ada. Udah hangus," timpal Haryati sambil menyeka air matanya. Tapi Riri seolah menutup telinganya rapat-rapat. Ia tak ingin kesibukannya terganggu dengan segala ratapan warga yang tak kunjung usai. 

"Saya merugi sampai Rp 200 juta, mas. Abis belanja alat tulis kantor (ATK) tapi nggak ada yang bisa diselamatkan," kata Iqbal menceritakan kondisinya. 

Api yang semula muncul dari salah satu kontrakan yang dihuni oleh para pedagang bubur ayam yang biasa berjualan di pinggir Jalan Cikini Raya tak kuasa dibendung. Api dengan cepat merembet ke bangunan lain. 

"Ini kan rata-rata bangunannya dari kayu. Pas kejadian sekitar 4:15 sebelum adzan subuh, api cepat banget gedenya," ujarnya Iqbal. 

Warga memang sempat berupaya memadamkan api. Tapi sial. Api merembet dengan cepat. Ember-ember berisi air seolah menjadi penyulut. Nyaris tak ada manfaatnya. 

"Mobil pemadam juga sulit masuk karena jalan masuknya sempit," ungkapnya. 

Kini, ia berharap uluran tangan pemerintah. Ia berharap bangunan tempat mereka bernaung segera direhab. Sehingga aktivitas usaha mereka dapat kembali berjalan. 

"Sekarang kan kita lagi mau bangkit nih dari Pandemi. Jadi kami minta dibantu pemerintah untuk rehab bangunan kami dan pasar ini," pungkas Iqbal. []