Ekonomi

KBI Jalankan Bisnis Baru Transaksi Perdagangan Timah Murni Dalam Negeri

KBI Jalankan Bisnis Baru Transaksi Perdagangan Timah Murni Dalam Negeri
Kliring Berjangka Indonesia (KBI) (ISTIMEWA)

AKURAT.CO, PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) resmi menjalankan bisnis baru transaksi perdagangan timah murni batangan dalam negeri di Bursa Berjangka Jakarta. Hal ini guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

"Hari ini, kami mulai menjalankan bisnis baru yang sejalan dengan peran KBI sebagai BUMN untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional," kata Direktur Utama KBI Fajar Wibhiyadi di Jakarta, Senin (22/3/2021).

Ia mengatakan Indonesia merupakan negara penghasil timah terbesar di dunia dan kebutuhan dalam negeri juga cukup besar. Untuk itu, perlu tata niaga yang baik terkait transaksi timah dalam negeri untuk memberikan keuntungan kepada negara dan masyarakat.

baca juga:

"Pada awal pembukaan perdagangan timah dalam negeri ini, telah terjadi transaksi sebanyak 150 Lot dengan berat 150 ton dengan harga transaksi Rp356.408.648/ton," ujarnya dilansir dari Antara.

Menurut dia pada prinsipnya perdagangan timah dalam negeri sama dengan transaksi pasar fisik timah murni batangan, perbedaannya adalah para pesertanya. Dalam pasar fisik timah murni batangan, pesertanya adalah buyer dari luar negeri untuk kebutuhan ekspor. Sedangkan dalam perdagangan timah dalam negeri, buyer-nya berasal dari dalam negeri.

“Ke depan kami optimistis, perdagangan timah dalam negeri akan terus tumbuh, karena industri dalam negeri yang membutuhkan timah sebagai bahan baku cukup besar," ujarnya.

Ia menambahkan perdagangan timah dalam negeri ini sejalan dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 53 Tahun 2018 tentang perubahan kedua atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 44/M-DAG/ PER/7/2014 tentang Ketentuan Ekspor Timah. Dalam peraturan tersebut dinyatakan bahwa timah murni batangan wajib diperdagangkan di bursa. Pasar fisik timah murni batangan telah berjalan di Bursa Berjangka Jakarta sejak 2019.

“Perdagangan timah dalam negeri ini tentunya adalah dalam rangka menciptakan transparansi sehingga semua transaksi yang terjadi tercatat dan dapat dimonitor oleh negara, termasuk berapa kebutuhan ekspor dan kebutuhan dalam negeri sehingga dapat digunakan untuk pengambilan kebijakan selanjutnya,” katanya.

Ia menjelaskan mekanisme trading pada dasarnya sama dengan transaksi timah luar negeri yang membedakan hanya di lottase bahwa 1 lot = 1 ton sedangkan untuk ekspor 1 lot = 5 ton. Jenis timah yang diperdagangkan juga sama dengan untuk ekspor, yaitu TLEAD300, 200, 100, 50 dan TPURE099.

Sumber: ANTARA

Dhera Arizona Pratiwi

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu