News

Kasus Siswi Dipaksa Berjilbab di Bantul: Sekolah Akui Semua Model Seragam Berhijab

Kasus Siswi Dipaksa Berjilbab di Bantul: Sekolah Akui Semua Model Seragam Berhijab
Ketua ORI DIY Budhi Masturi menunjukkan panduan berseragam siswa sekolah tingkat menengah sesuai Permendikbud, Rabu (3/8/2022) (AKURAT.CO/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO Pihak SMAN 1 Banguntapan Bantul mengakui seluruh jenis seragam siswi di sekolahnya disertai atribut jilbab.

Hal itu disampaikan Ketua Ombudsman Republik Indonesia (ORI) DIY Budhi Masturi usai pihaknya memeriksa koordinator guru BK SMAN 1 Banguntapan.

Dalam salinan lampiran yang ORI peroleh, ada tiga jenis seragam siswi di SMAN 1 Banguntapan. Yakni, seragam OSIS, seragam batik, dan seragam pramuka, yang semuanya menggunakan atribut jilbab serta rok juga lengan panjang.

baca juga:

"Jadi hari senin-rabu contohnya pakai jilbab warna putih berlogo SMAN 1 Banguntapan. Hari kamis pakai jilbab putih berlogo SMAN 1 Banguntapan, hari jumat pakai jilbab coklat berlogo SMAN 1 Banguntapan. Jadi semua hari pakai jilbab dan di sini judulnya panduan seragam SMAN 1 Banguntapan, dan tidak ada kata-kata muslimahnya," kata Budhi di kantornya, Sleman, Rabu (3/8/2022).

Padahal, mengacu pada Permendikbud Nomor 45 Tahun 2014 Tentang Pakaian Seragam Sekolah Bagi Peserta Didik Jenjang Pendidikan Dasar Dan Menengah, tak semua model pakaian seragam siswi SMAN disertai atribut jilbab atau rok serta lengan panjang.

Salinan panduan seragam itu merupakan bagian dari lampiran Surat Pemberitahuan Daftar Ulang yang juga ORI dapatkan sebagai petunjuk.

Tertera dalam surat itu, pemberitahuan atau pengumuman pelaksanaan daftar ulang bagi untuk para siswa/siswi dari tujuh kelas XI di SMAN 1 Banguntapan tertanggal 7 Juli 2022 yang ditandatangani Agung Istianto selaku Kepala Sekolah.

Pada poin ke tiga bagian catatan dalam surat, tertulis 'Membawa uang sejumlah Rp75.000 untuk membayar jilbab berlogo bagi siswa putri'.

Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap koordinator Guru BK, didapati informasi bahwa sekolah memang menyediakan seragam bagi para siswa/siswinya. Namun, klaimnya, mereka tak diwajibkan membeli.

"Tadi mengkonfirmasinya suratnya dan nama-nama yang tertera dalam surat itu beliau mengkonfirmasi betul itu wali kelas masing-masing dan (dokumen panduan) seragam ini kan lampiran dari surat ini," ucapnya.

"Jadi kita sementara ini memegang penjelasan dari BK tadi tentu kita akan klarifikasi lagi kebenarannya. Atau barangkali nanti ada orang tua siswa lainnya yang bisa memberikan testimoni atau saksi mengenai ini," lanjut Budhi.

ORI DIY setelah ini juga masih akan menelaah tata tertib sekolah, khususnya aturan berseragam bagi siswa/siswi SMAN 1 Banguntapan. Mencocokkan sesuai tidaknya isi dengan Permendikbud berlaku.

"Sekarang masih kita dalami dan komparasi dengan permendikbud kesesuaiannya. Memang sekilas ada perbedaan," tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, Aliansi Masyarakat Peduli Pendidikan Yogyakarta (AMPPY) melaporkan adanya salah seorang siswi muslim kelas X SMAN 1 Banguntapan Bantul, DIY yang mengalami depresi berat karena dipaksa mengenakan hijab ketika Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Baca Juga: Disdikpora DIY Investigasi Kasus Siswi di Bantul Depresi karena Dipaksa Pakai Hijab

Siswi kelas X itu disebut mengalami trauma usai salah seorang guru BK memakaikan jilbab kepadanya secara paksa pertengahan Juli 2022 lalu. Dia disebut sampai menangis di toilet satu jam lamanya saat itu.

Siswi itu sempat mengurung diri di kamar rumahnya dan enggan berbicara dengan orang tuanya. Tanggal 25 Juli lalu, siswi itu pingsan ketika mengikuti upacara bendera. Sejak tanggal 26 Juli hingga hari ini, yang bersangkutan belum mau kembali ke sekolah.[]