News

Kasus Siswi di Bantul Dipaksa Berjilbab: Ungkapan Pasrah Kepsek Usai Dianggap Langgar Aturan

Kepala SMAN 1 Banguntapan nonaktif Agung Istianto dianggap melanggar disiplin pegawai bersama dua guru bimbingan konseling (BK) dan seorang wali kelas.

Kasus Siswi di Bantul Dipaksa Berjilbab: Ungkapan Pasrah Kepsek Usai Dianggap Langgar Aturan
Orang tua siswi dan kepala SMAN 1 Banguntapan sepakat berdamai. (AKURAT.CO/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO Kepala SMAN 1 Banguntapan nonaktif Agung Istianto mengaku pasrah usai dianggap melanggar disiplin pegawai terkait kasus pemaksaan jilbab di sekolahnya.

Agung tak sendirian. Dia dianggap melanggar disiplin pegawai bersama dua guru bimbingan konseling (BK) dan seorang wali kelas SMAN 1 Banguntapan yang juga berstatus bebas tugas sementara.

"Saya serahkan dinas, dinas kan bapak kami. Kami percaya sama dinas yang terbaik buat kami," kata Agung di kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) , Kota Yogyakarta, Rabu (10/8/2022).

baca juga:

Status nonaktif atau bebas tugas sementara itu akan bertahan hingga nanti keempatnya mendapatkan sanksi yang akan dijatuhkan melalui Badan Kepegawaian Daerah (BKD) DIY berdasarkan hasil investigasi Disdikpora DIY.

Hasil investigasi berikut sanksi nantinya tak akan sejalan dengan akhir damai dari Agung dan ketiga guru SMAN 1 Banguntapan bersama orangtua siswi terkait.

Sebagaimana diketahui, kedua belah pihak telah sepakat mengakhiri persoalan jilbab ini secara kekeluargaan hari ini melalui proses rekonsiliasi yang difasilitasi Pemda DIY.

Agung cuma berharap rangkaian polemik jilbab ini tak sampai memengaruhi proses pendidikan di SMAN 1 Banguntapan.

"Yang pasti sekolah kami pingin tenang lagi belajar. Anaknya tenang belajar, bapak gurunya tenang belajar itu aja. Kami sudah berbaikan," tandasnya.

Adapun bentuk pelanggaran keempat orang ini, berdasarkan hasil investigasi Disdikpora DIY adalah jual beli seragam dan tak memberikan ruang atau pilihan bagi siswi untuk seragam yang akan dikenakan.