News

Kasus Serupa George Floyd Timpa Ayah dan Anak, Protes Besar Meletus di India


Kasus Serupa George Floyd Timpa Ayah dan Anak, Protes Besar Meletus di India
Kasus kekerasan oleh polisi yang terjadi di India menimpa J. Jayaraj (58) dan Bennicks Immanuel (31) (AFP)

AKURAT.CO, Protes besar-besaran terjadi di India pasca pembunuhan ayah dan anak oleh seorang anggota kepolisian. Pembunuhan keduanya terjadi selang beberapa minggu setelah kasus George Floyd yang memicu protes besar di Amerika Serikat.

Warga India yang turun dalam protes menyamakan kasus ayah dan anak tersebut dengan kasus George Floyd.

Kasus di India bermula saat J. Jayaraj (58) dan Bennicks Immanuel (31) ditangkap pada 19 Juni dan dituduh membuka toko mereka lewat dari jam yang diizinkan di negara bagian selatan Tamil Nadu, yang telah menerapkan kembali lockdown akibat pandemi corona.

Mereka meninggal di rumah sakit beberapa hari kemudian. Pihak keluarga, lewat pernyataan tertulis, mengatakan bahwa keduanya menjadi korban kekerasan oleh polisi dan menderita pendarahan di dubur.

Kepala Menteri Negara bagian Edappadi Palaniswami mengatakan bahwa dua polisi yang terlibat dalam penyiksaan itu telah diskors. Dia menambahkan bahwa kasus tersebut akan diserahkan ke agen federal Biro Penyelidikan Pusat, sambil menunggu persetujuan Pengadilan Tinggi di Chennai.

Kematian keduanya memicu protes pekan lalu di mana pemilik toko di seluruh Tamil Nadu melakukan pemogokan pada hari Rabu. Kasus ini juga dikomentari oleh sejumlah pejabat dan selebritis.

"Terkejut dengan apa yang saya dengar. Benar-benar kaget, sedih, dan marah. Yang bersalah tidak boleh dibiarkan lolos begitu saja," kata bintang Bollywood Priyanka Chopra, dilansir dari laman SCMP, Senin (29/6).

"Mari kita menuntut keadilan yang sama dengan yang kita lakukan untuk George Floyd," kata aktris Krystle D'Souza.

Politisi negara, aktivis sosial, dan pengacara Jignesh Mevani menulis bahwa “George Floyds dari India terlalu banyak”.

"Akankah orang India berbaris di jalan-jalan dalam jumlah ribuan seperti di Amerika?" tulisnya di Twitter.

Rahul Gandhi selaku pemimpin partai oposisi oposisi mengatakan kasus ini menunjukkan bahwa pihak yang seharusnya jadi pelindung justru berubah jadi penindas.

Beberapa laporan oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia di India telah merinci kasus-kasus dugaan penyiksaan terhadap tersangka dalam tahanan, dengan kematian seringkali disebut karena bunuh diri atau sebab alamiah. Menurut Komisi Hak Asasi Manusia Nasional, 3.146 orang tewas di tahanan polisi dan peradilan pada 2017-18.

"Kekerasan penahanan dan penyiksaan begitu merajalela di India sehingga hampir menjadi rutinitas. Ini merupakan bentuk ekses terburuk dari pegawai negeri yang dipercayakan dengan tugas penegakan hukum," kata Komisi HAM. []

Dian Dwi Anisa

https://akurat.co