News

Kasus 'Prank' Donasi Rp2 Triliun, Itwasum dan Propam Mabes Polri Turun Tangan

Tim ini memastikan pokok persoalan donasi Rp2 triliun yang menuai kegaduhan.


Kasus 'Prank' Donasi Rp2 Triliun, Itwasum dan Propam Mabes Polri Turun Tangan
Kadiv Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono terkait penetapan tersangka baru dalam kasus kebakaran gedung utama Kejagung (AKURAT.CO/Yudi Permana)

AKURAT.CO, Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) menurunkan tim pengawasan internal mengusut kasus 'prank' donasi Rp2 triliun dari keluarga pengusaha Akidi Tio. Tim ini memastikan pokok persoalan donasi Rp2 triliun yang menuai kegaduhan.

"Berkaitan dengan Kapolda Sumatera Selatan, ini dari Mabes Polri sudah menurunkan tim internal yaitu dari Dirsus Itwasum Mabes Polri dan Paminal Div Propam Polri," ucap Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono dalam konferensi pers virtual dari Mabes Polri Jakarta, Rabu (4/8/2021).

Argo menjelaskan, tim internal diturunkan untuk melihat kejelasan kasus tersebut seperti apa kasusnya. Karena itu, Argo berharap media sabar menunggu atas hasil penyelidikan dan pemeriksaan internal terkait kejelasan kasus donasi Rp2 triliun dari keluarga Akidi Tio tersebut.

"Kita tunggu saja kegiatan penyelidikan dan pemeriksaan internal dari Mabes Polri," ujar Argo.

Dalam kesempatan itu, Argo menyampaikan perkembangan kasus donasi Rp2 triliun yang disidik Polda Sumatera Selatan.

Hingga saat ini penyidik telah meminta keterangan lima orang yakni anak Akidi Tio, Heryanty, dokter pribadi keluarga dr Hardi Darmawan dan kerabat yang mengetahui perkara tersebut.

Diberitakan, pemberian simbolis donasi Rp2 triliun dilakukan d depan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkompimpda) Sumatera Selatan.

Sumbangan tersebut diserahkan atas nama anak Akidi Tio, Heriyanti senilai Rp2 triliun.

Kemudian, pada Kamis (29/7), Heriyati memberikan bilyet giro kepada Polda Sumatera Selatan yang jatuh tempo pada tanggal 2 Agustus 2021.

Pada tanggal 2 Agustus 2021, penyidik Polda Sumatera Selatan dan Heriyanti ke bank untuk mengkliring bilyet giro tersebut.

"Ternyata dari bank memberikan keterangan bahwa saldo tidak mencukupi," tutur Argo.

Maka dengan adanya saldo yang tidak mencukupi, penyidik Polda Sumatera Selatan melakukan penyelidikan terhadap peristiwa tersebut, guna mencari apakah motif dan maksud dari pemberi donasi.

"Penyidik sedang bekerja sudah meminta keterangan kepada lima orang sementara ini, yaitu yang bersangkutan Heriyanti, Pak Hardi Darmawan dengan teman-teman, saudara yang lain yang mengetahui kasus ini," ujar Argo.

Argo menambahkan, penyidik juga menghadirkan saksi ahli untuk dimintai keterangannya dalam penyelidikan kasus donasi Rp2 triliun tersebut.

"Ada juga ahli kami mintai keterangan di sana," ucap Argo.

Tim internal Mabes Polri akan meminta keterangan Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol Eko Indra Heri, yang ikut hadir dan menerima secara simbolis donasi Rp2 triliun untuk penanganan COVID-19 di Sumatera Selatan.

Sebelumnya, Ketua PPATK Dian Ediana Rae menyebut bilyet giro Rp 2 triliun milik Heryanti Tio tidak ada uangnya.

"Sampai dengan kemarin sore kami sudah melakukan analisis dan pemeriksaan, dan dapat disimpulkan kalau uang yang disebut dalam bilyet giro itu tidak ada," kata Dian Ediana, Rabu (4/8/2021).

Dian meyebut berdasarkan hasil pemeriksaan saldo di rekening milik Heryanti Tio, anak bungsu mendiang Akidi Tio, tidak mencapai Rp2 triliun.[]