Lifestyle

Kasus Positif Covid-19 Menggila, Bagaimana Nasib Pembelajaran Tatap Muka pada Anak?

Ini hal yang wajib dilakukan orangtua bila anak ikut sekolah tatap muka terbatas


Kasus Positif Covid-19  Menggila, Bagaimana Nasib Pembelajaran Tatap Muka pada Anak?
Ilustrasi Pembelajaran Tatap Muka Terbatas

AKURAT.CO, Kasus infeksi virus Corona semakin meningkat di Indonesia. Mirisnya, satu dari delapan pasien Covid-19 di Indonesia adalah anak-anak. Melihat kondisi ini, pemerintah pusat akhirnya memutuskan untuk memperkuat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro selama 14 hari. PPKM ini akan diberlakukan secara ketat di sejumlah daerah, diantaranya wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. 

Ada enam aturan PPKM yang dikeluarkan oleh pemerintah. Salah satunya adalah soal kebijakan sekolah daring. Pemprov DKI Jakarta memutuskan untuk menghentikan sementara uji coba belajar tatap muka tahap kedua. Seharusnya uji coba ini akan dilakukan pada 9-16 Juni 2021, dan diikuti oleh 226 sekolah. Penghentian sementara belajar tatap muka itu sudah disepakati dalam rapat bersama Satuan Tugas Penanganan Covid-19 DKI Jakarta. 

Meski begitu, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) belum menunda rencana pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas pada Juli mendatang. Sekolah, perguruan tinggi, atau pelatihan berada di zona merah Covid-19 akan tetap dilakukan sekolah online. Sementara sekolah, perguruan tinggi, atau pelatihan yang berada di zona lainnya, aturannya mengikuti Kemendikbud Ristek dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat.

Meski begitu, keputusan untuk menyekolahkan anak secara tatap muka atau tidak kembali kepada orangtua. 

Apa yang harus dilakukan orangtua bila tetap ingin anak ikut sekolah tatap muka? 

Orangtua wajib mengajarkan anak tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan secara ketat. Ya, orangtua wajib melatih anak segera mencuci tangan dengan benar saat baru sampai di sekolah, sebelum pulang dan tiba di rumah. Anak juga harus diajarkan untuk menjaga jarak dengan teman-temannya dan orang lain. Selain itu, orangtua juga perlu memberitahu soal etika batuk dan bersin. Ingatkan anak untuk tidak menyentuh area wajah

Lebih lanjut, anak-anak yang memiliki komorbid (penyakit penyerta) disarankan untuk tidak melakukan sekolah tatap muka. 

Tak hanya anak saja, orangtua juga wajib menerapkan protokol kesehatan dengan sangat ketat. Sebab, para ahli menyebutkan risiko penularan pada anak menjadi tinggi karena orang dewasa di sekitarnya masih lalai menerapkan protokol kesehatan 5M. Ya, kemungkinan besar anak-anak positif Covid-19 karena orangtua tidak tahu bahwa dirinya telah terinfeksi. 

Berikut protokol kesehatan PTM Terbatas di masa pandemi Covid-19: 

Sebelum pembelajaran: 

  • Melakukan disinfeksi sarana rasarana dan lingkungan satuan pendidikan.
  • Memastikan kecukupan cairan disinfektan, sabun cuci tangan, air bersih di setiap fasilitas  dan cairan pembersih tangan (hand sanitizer). 
  • Memastikan ketersediaan masker
  • Memastikan thermogun (pengukur suhu tubuh tembak) berfungsi dengan baik.
  • Melakukan pemantauan kesehatan warga satuan pendidikan, seperti suhu tubuh dan menanyakan adanya gejala batuk, pilek, tenggorokan dan/atau sesak napas. 

Setelah pembelajaran: 

  • Melakukan disinfeksi sarana prasarana dan lingkungan satuan pendidikan. 
  • memeriksa ketersediaan cairan disinfektan, sabun cuci tangan, air bersih di setiap fasilitas  dan cairan pembersih tangan (hand sanitizer). 
  • Memeriksa ketersediaan masker
  • Memastikan thermogun (pengukur suhu tubuh tembak) berfungsi dengan baik.
  • Melaporkan hasil pemantauan kesehatan warga stuan pendidikan harian kepada dinas pendidikan, kantor wilayah Kementerian Agama Provisnsi, dan kantor Kementerian Agama Kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya. 

Ketentuan sekolah tatap muka, dilansir dari covid19.go.id: 

  • Satuan pendidikan yang berada di daerah zona oranye dan merahmelakukan proses pembelajaran dengan cara Belajar Dari Rumah (BDR) alias sekolah online.
  • Pembelajaran tatap muka dapat dilakukan di wilayah zona hijau dan kuning setelah memenuhi semua daftar periksa dan merasa siap, serta adanya persetujuan dari pemerintah daerah dan persetujuan dari komite/orangtua.
  • Pembukaan satuan pendidikan dimulai dari jenjang pendidikan dasar dan menengah (SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA), kemudian dilanjutkan dengan jenjang PAUD paling cepat 2 (dua) bulan setelah itu.
  • Dilaksanakan melalui dua fase sebagai berikut:  1). Masa transisi selama dua bulan. Jika aman, dilanjutkan dengan  2). Masa kebiasaan baru apabila daerahnya tetap dikategorikan sebagai  daerah zona hijau dan kuning.
  • Sekolah dan madrasah berasrama yang berada di daerah zona hijau dan kuning dapat membuka asrama dan dilakukan secara bertahap.
  • Wajib menutup kembali bila ditemukan kasus konfirmasi positif daerahnya berubah menjadi zona oranye dan merah. 

Ketentuan khusus:

  • Peserta didik yang tinggal di daerah zona oranye dan merah. dan/atau dalam perjalanannya ke dan dari satuan pendidikan harus melalui zona oranye dan/atau  merah tetap melanjutkan BDR atau sekolah online.
  • Peserta didik yang berasal dari daerah zona oranye dan merah dan kemudian pindah kezona hijau dan kuning tempat satuan pendidikan berada harus melakukan isolasi mandiri selama 14 (empat belas) hari setelah kepindahan dan sebelum melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan.

Azhar Ilyas

https://akurat.co