News

Kasus Pencurian Barbuk Emas, Plt Direktur Labuksi KPK Disanksi Ringan

Mungki disanksi ringan berupa teguran tertulis II dengan masa berlaku hukuman selama 6 bulan.


Kasus Pencurian Barbuk Emas, Plt Direktur Labuksi KPK Disanksi Ringan
Anggota Dewan Pengawas KPK Albertina Ho bersiap mengikuti upacara pelantikan Pimpinan dan Dewan Pengawas KPK di Istana Negara, Jakarta, Jumat (20/12/2019). (Antara)

AKURAT.CO, Ketua Majelis Etik Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Albertina Ho menyatakan Pelaksana tugas (Plt) Direktur Pelacakan Aset Pengelolaan Barang Bukti dan Eksekusi (Labuksi) KPK Mungki Hadipratikto bersalah karena tidak melaporkan hilangnya barang bukti emas ke atasan. Mungki disanksi ringan berupa teguran tertulis II dengan masa berlaku hukuman selama 6 bulan.

"Mengadili menyatakan terperiksa Mungki Hadipratikno bersalah melakukan pelanggaran kode etik dan pedoman perilaku berupa tidak bekerja sesuai SOP dan tidak melaporkan dugaan pelanggaran kode etik dan pedoman perilaku yang dilakukan insan komisi yang diatur pasal 4 ayat 1 huruf e dan pasal 7 ayat 1 huruf a peraturan Dewas No 2 tahun 2020 Peraturan Dewan Pengawas KPK No 2 tahun 2020 tentang Penegakan Kode Etik dan Pedoman Perilaku KPK," kata Albertina Ho dalam sidang etik di Gedung KPK Jakarta, Jumat (23/7/2021). Majelis etik terdiri Albertina Ho, Harjono, dan Syamsuddin Haris.

Dalam pertimbangannya, hal yang memberatkan adalah terperiksa sebagai Plt Direktur Labuksi seharusnya menjadi contoh dalam pelaksanaan SOP namun terperiksa melakukan sebaliknya. Terperiksa tidak melaporkan dugaan pelanggaran kode etik dan pedoman perilaku yang dilakukan oleh Insan Komisi yang berada di unit kerja yang menjadi tanggung jawab terperiksa. 

Sementara, hal yang meringankan dalam perbuatan Mungki adalah mengakui secara terus-terang akan perbuatannya dan menyesali perbuatan serta belum pernah dijatuhi sanksi etik. 

Mungki dijatuhi sanksi etik terkait dengan perbuatan penghilangan barang bukti dalam perkara mantan pegawai Kementerian Keuangan Yaya Purnomo yaitu emas seberat 1,9 kilogram yang dilakukan oleh I Gede Ary Suryanthara selaku pegawai KPK di Direktorat Labuksi KPK. Sedangkan I Gede Ary Suryanthara sudah diberhentikan dengan tidak hormat pada April 2021 lalu.

Dalam kontruksi kasus ini, pada 29 Juni 2020, Mungki sudah mendapatkan laporan dari Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Pengelola Barang Bukti I, Oki Setiadi, tentang hilangnya barang bukti berupa logam mulia dalam perkara Yaya Purnomo. Mungki kemudian memerintahkan Oki untuk mencari barang bukti tersebut dan membuka akses CCTV. 

Oki Setiadi pada 24 September 2020 lalu melaporkan bahwa dirinya telah menemukan foto atas rekaman video CCTV saat I Gede Ary Suryanthara mengambil logam mulia tersebut pada 8, 9 dan 13 Januari 2020. 

Mungki lalu memanggil Oki Setiadi dan I Gede Ary pada 5 Oktober 2020 ke ruangannya, di sana Gede Ary mengakui semua perbuatannya dan mengatakan emas telah digadaikan di Kantor Pegadaian Meruya dan Tanjung Duren. 

Pada 15 Desember 2020, Mungki melaporkan secara lisan emas yang hilang itu kepada Direktur Pengawasan Internal Subroto. Subroto lalu mengarahkan Mungki untuk menyelesaikan masalah ini karena BPK akan masuk audit.