Rahmah

Kasus Nikah Beda Agama di Surabaya, Ketua MUI: Haram dan Tidak Sah

Perkawinan laki-laki muslim dengan wanita ahlu kitab (non muslim), menurut qaul mu’tamad (pendapat yang kuat) adalah haram dan tidak sah


Kasus Nikah Beda Agama di Surabaya, Ketua MUI: Haram dan Tidak Sah
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Muhammad Cholil Nafis (miu.or.id)

AKURAT.CO Kasus pengesahan pernikahan beda agama yang disahkan oleh Pengadilan Negeri (PN) Surabaya beberapa waktu lalu sempat membuat heboh publik dan mengundang respons dari berbagai kalangan.

Menanggapi hal itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Muhammad Cholil Nafis menegaskan bahwa berdasarkan fatwa MUI  nomor 4/MUNAS VII/MUI/8/2005, pernikahan beda agama haram dan tidak sah.

“Perkawinan laki-laki muslim dengan wanita ahlu kitab (non muslim), menurut qaul mu’tamad (pendapat yang kuat) adalah haram dan tidak sah,” kata Cholil Nafis kepada AKURAT.CO melalui keterangan tertulis, Selasa (28/6/2022).

baca juga:

Selanjutnya, Cholil Nafis, menyebutkan bahwa  Nahdlatul Ulama (NU) juga telah menetapkan fatwa terkait nikah beda agama. Fatwa itu ditetapkan dalam Muktamar ke-28 di Yogyakarta, Jawa Tengah pada akhir November 1989.

“Ulama NU  dalam fatwanya menegaskan bahwa nikah antara dua orang yang berlainan agama di Indonesia hukumnya tidak sah,” imbuhnya.

“Non muslim juga disebut sebagai Ahlul Kitab,” imbuhnya lagi.

Selain itu, terangnya, Muhammadiyah juga telah mentarjihkan (menguatkan) pendapat yang mengatakan tidak boleh menikahi wanita non muslim atau ahlul kitab dalam keputusan Muktamar Tarjih ke-22 tahun 1989 di Malang Jawa Timur, dengan beberapa alasan sebagai berikut:

Ahlul Kitab yang ada sekarang tidak sama dengan Ahlul Kitab yang ada pada waktu zaman Nabi SAW. Semua Ahlul Kitab zaman sekarang sudah jelas-jelas musyrik atau menyekutukan Allah dengan mengatakan bahwa Uzair itu anak Allah (menurut Yahudi) dan Isa itu anak Allah (menurut Nasrani).
3. Pernikahan beda agama dipastikan tidak akan mungkin mewujudkan keluarga sakinah sebagai tujuan utama dilaksanakannya pernikahan.

“Insya Allah umat Islam tidak kekurangan wanita muslimah, bahkan realitasnya jumlah kaum wanita muslimah lebih banyak dari kaum laki-lakinya,” ujarnya.