News

Kasus Harian COVID-19 Pecah Rekor Lagi, Jakarta Harus Lockdown?

Provinsi DKI Jakarta kembali pecahkan rekor kasus harian terbanyak sepanjang satu setengah tahun COVID-19 mewabah di  Ibu Kota.


Kasus Harian COVID-19 Pecah Rekor Lagi, Jakarta Harus Lockdown?
Petugas melakukan pengambilan cairan dari hidung dan mulut untuk tes swab Antigen bagi para perwira dan anggota TNI serta Wartawan yang akan ikut dalam kapal KRI Semarang, di Pelabuhan Tanjung Priuk, Jakarta Utara, Senin (11/1/2021). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Provinsi DKI Jakarta kembali pecahkan rekor kasus harian terbanyak sepanjang satu setengah tahun COVID-19 mewabah di Ibu Kota pada Minggu (20/6/2021). Tercatat hari ini sebanyak 5.582 warga terkonfirmasi positif COVID-19.

Pencapaian rekor kasus terbanyak merupakan kali ketiga pada pekan ini. Awalnya pada Jumat lalu, kasus harian di Jakarta mencapai 4.737, sehari setelahnya 4.895.

Jika diakumulasikan, total kasus corona di Jakarta  terhitung sejak Maret 2020 hingga hari sudah mencapai  474.029 kasus. Dengan 435.904 diantaranya dinyatakan telah sembuh.

Sementara pasien corona yang dinyatakan meninggal dunia mencapai  7.768, setalah ada 69 kasus kematian baru hari ini.

DKI Seharusnya Lockdown

Ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono menilai penerapan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro di lingkup RT/RW di Provinsi DKI Jakarta tidak efektif membendung laju penyebaran COVID-19 di Ibu Kota.

Upaya yang dilakukan Gubernur Anies Baswedan dan jajarannya itu dinilai terlampau lemah membendung gelombang tinggi sebaran corona yang sekarang ini sudah bermutasi menjadi sejumlah varian baru seperti B117 dan B1617.

Kata Miko, dua varian baru itu memiliki daya tular 10 kali lebih cepat dari varian asli corona, sehingga PPKM dinilai bukan perisai untuk melindungi masyarakat Jakarta.

"Sekarang harus dilihat baik-baik, ledakan sekarang bukan yang bisanya, kalau kemudian virus yang biasanya mungkin bisa dengan PPKM Mikro," kata Miko ketika dikonfirmasi AKURAT.CO

Diibaratkan perang, gempuran corana di Jakarta saat ini adalah pasukan mematikan yang memberondong dengan peralatan tempur mutakhir. Sementara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta hanya mampu menahan gempuran musuh dengan peralatan tradisional. Jelas tidak seimbang, butuh inovasi kebijakan yang lebih modern.

"Kalau kita perang yang selama ini COVID-19 nembak pelan-pelan pakai pistol, kalau  sekarang sudah pakai senapan mesin atau ngebom bahkan, menurut saya  kita harus menangkis dengan hebat jangan menangkis dengan bambu runcing. Harusnya melakukan penanggulangan COVID-19 yang espansif, progresif, kemudian intensif," tegasnya.

Opsi pertama yang mesti dilakukan agar tsunami corona tidak menerjang Jakarta, kata Miko, adalah melakukan lockdown. Semua kegiatan di dalam kota diberhentikan sementara, sehingga tidak ada mobilitas masyarakat yang dapat memicu penularan. Strategi seperti ini diyakini dapat menaklukkan musuh tak kasat mata itu.

"Harus melakukan lockdown. Itu pilihan pertama untuk mencegah menyebarnya varian baru, walau kerugian ekonomi harus dibayar," tutur Miko.

Setelah ledakan corona pasca libur Lebaran ini terjadi, Gubernur DKI Jakarta sudah memberi ultimatum. Dia bilang jika kondisi sekarang gagal dikendalikan, maka Jakarta bakal terperosok dalam kondisi genting corona.

Sudah tahu begitu, Anies bukannya membuat kebijakan baru, justru dia memilih memperpanjang  penerapan PPKM Mikro yang sudah berkali-kali diperpanjang masa berlakunya.

"Jadi kapan kita sebut dia progresif kalau kita benar-benar-benar besar-besaran (melawan corona). Jadi PPKM itu bukan besar-besaran, itu tidak progresif," tuntas Miko. []