Lifestyle

Kasus Covid-19 Meningkat, P2G Minta Anies Hentikan PTM 100%

P2G mendesak Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Anies Baswedan, menghentikan skema PTM 100


Kasus Covid-19 Meningkat, P2G Minta Anies Hentikan PTM 100%
Siswa mengikuti pembelajaran tatap muka di SDN Manggarai 01, Jakarta, Senin (30/8/2021). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) mencatat adanya perkembangan kasus Covid-19 sampai Selasa 25 Januari 2022. Data menunjukkan angka kasus yang terus melonjak naik. 

Berdasarkan data tersebut, terjadi penambahan sebesar 4.878 total kasus secara nasional. DKI Jakarta adalah penyumbang kasus Covid-19 terbanyak yakni 2.190 kasus. 

Alhasil berdampak kepada pendidikan khususnya sekolah di Jakarta. Sudah 90 sekolah yang ditutup, menghentikan proses Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100%, akibat siswa dan guru positif Covid-19.

baca juga:

Kondisi begini membuat para guru, orang tua, dan siswa merasa cemas dalam melaksanakan PTM 100% yang masih berjalan. PTM 100% di tengah kondisi meningkatnya jumlah kasus Covid-19, sejatinya tidak aman bagi guru dan siswa.

Oleh karena itu, menurut Koordinator Nasional P2G yakni Satriwan Salim mengatakan bahwa PTM 100% Jakarta di tengah menghadapi kondisi gelombang ketiga Covid-19, secara psikologis sebenarnya cukup mencemaskan bagi guru dan orang tua.

"Coba rasakan, bagaimana guru, siswa berinteraksi kayak sekolah normal, sebab 100% siswa masuk setiap hari. Sementara itu angka kasus meningkat tajam tiap hari. Ini mengganggu pikiran dan kenyamanan belajar di sekolah," ungkap Satriwan melalui keterangan pers, pada Rabu (26/01).

Satriwan menambahkan, data yang dihimpun P2G menunjukkan, ada beberapa sekolah di Jakarta sudah menghentikan PTM 100% sebanyak 2 kali, hanya dalam jarak waktu 2 minggu, karena berulang kali siswa dan gurunya positif Covid-19.

"Ada beberapa sekolah semula PTM 100%, lalu siswa kena Covid, PTM dihentikan 5×24 jam. Setelah itu PTM lagi, setelah beberapa hari PTM ada siswa positif lagi, terpaksa PTM dihentikan kembali." jelasnya. 

Ini kan tidak efektif. Sekolah buka tutup, buka tutup terus, ga tau sampai kapan," sambunya.

Satriawan berpendapat, pelaksanaan skema PTM 100% tidak sepenuhnya aman, lancar, dan efektif. 

Di sisi lain, menurut Satriawan, P2G masih menemukan banyak pelanggaran PTM 100% yang terjadi, akibat lemahnya pengawasan dari Satgas Covid-19 termasuk dinas terkait antara lain 

Jarak 1 meter dalam kelas yang sulit dilakukan karena ruang kelas relatif kecil ketimbang jumlah siswa; 

Ruang sirkulasi udara tidak ada atau ventilasi udara tidak dibuka karena kelas ber-AC; siswa berkerumun dan nongkrong bersama sepulang sekolah; dan masih ada kantin sekolah buka secara diam-diam. 

Berdasarkan kondisi yang sudah mengkhawatirkan itu, P2G mendesak Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Anies Baswedan, termasuk kepala daerah sekitar daerah aglomerasi Jakarta, menghentikan skema PTM 100% demi keselamatan dan kesehatan semua warga sekolah.

"Kami memohon agar Pak Anies mengembalikan kepada skema PTM Terbatas 50%. Dengan metode belajar Blended Learning, sebagian siswa belajar dari rumah, dan sebagian dari sekolah. Metode ini cukup efektif mencegah learning loss sekaligus life loss," pinta Satriwan.

Satriawan mengatakan, lagipula guru-guru dan siswa di DKI Jakarta sudah berpengalaman menggunakan skema PTM  50% dengan metode "blended". 

Para guru dan siswa rata-rata sudah memiliki gawai pintar bahkan laptop/komputer, sinyal internet bagus, relatif tak ada kendala dari aspek infrastruktur digital. 

Tentu dengan catatan, ada pendampingan orang tua dari rumah selama anak PJJ.

P2G berharap Pemprov DKI Jakarta jangan meremehkan kondisi ini, jangan pula tunggu gelombang ketiga kasus Covid-19 memuncak. 

"Di sekolah kita pernah belajar peribahasa, "Pikir