News

Kasus Covid-19 DKI Melonjak, KPK Lakukan Penyesuaian Jam Kerja

25 persen pegawai KPK bekerja dari kantor dan 75 persen pegawai bekerja dari rumah


Kasus Covid-19 DKI Melonjak, KPK Lakukan Penyesuaian Jam Kerja
Plt. Juru Bicara KPK Ali Fikri (Antara)

AKURAT.CO  Peningkatan kasus Covid-19 di Ibukota turut memengaruhi sistem kerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Lembaga antirasuah itu kini mengatur ketat kehadiran fisik di lembaga itu.

Bahkan untuk kehadiran fisik pegawai KPK, 25 persen pegawai KPK bekerja dari kantor dan 75 persen pegawai bekerja dari rumah. 

Kebijakan itu disebut Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri sebagai bentuk penyesuaian terhadap perkembangan dan upaya pengendalian wabah Covid-19. 

"Menyesuaikan dengan perkembangan dan kebijakan yang berlaku terkait penanganan dan pengendalian Covid-19 serta untuk tetap memastikan berjalannya  seluruh tugas dan fungsi pemberantasan korupsi, Pimpinan KPK mengambil kebijakan diantaranya. Sistem kehadiran fisik menggunakan proporsi 25 persen bekerja dari kantor (BDK) dan 75 persen bekerja dari rumah (BDR)," ujarnya, Kamis (24/6/2021). 

Jam kerja untuk pegawai yang melaksanakan BDK adalah 8 jam dengan ketentuan, hari Senin sampai dengan Kamis kerja dimulai Pukul 08.00 WIB - 17.00 WIB. Sementara hari Jumat dimulai Pukul 08.00 WIB-17.30 WIB. 

"KPK akan tetap dan terus mengingatkan kembali kepada seluruh Insan KPK untuk tetap menjalani protokol kesehatan dengan benar dan penuh tanggung jawab," ujarnya. 

Untuk memastikan keamanan, pihaknya juga melakukan uji kesehatan dengan melakukan swab antigen bagi seluruh pegawai KPK. Termasuk menyemprotkan cairan disinfektan di lingkungan kerja KPK.  

"KPK juga melakukan swab antigen bagi seluruh pegawai dan pihak-pihak terkait di lingkungan KPK serta melakukan penyemprotan disinfectan pada setiap ruang kerja pegawai KPK," ujarnya. 

Penyemprotan cairan disinfektan juga tak hanya dilakukan di gedung merah putih, tetapi juga dilakukan di seluruh cabang KPK, seperti di gedung lama KPK dan rumah tahanan Pomdam Jaya Guntur. 

Seperti diketahui, angka kasus Covid-19 di Ibukota saat ini melonjak tajam, bahkan telah menyentuh 7 ribu kasus terkonfirmasi positif Covid-19.

Lonjakan itu tentu membuat beban rumah sakit semakin tertekan. Bahkan terancam kolaps akibat tak sanggup lagi menerima lonjakan jumlah pasien. 

Demi mencegah penularan Covid-19, masyarakat diimbau untuk selalu mencuci tangan setelah menyentuh berbagai benda di tempat umum yang berpotensi disentuh banyak orang. 

Bila menggunakan masker secara benar sudah dilakukan dan mencuci tangan sudah rutin dilakukan, upaya lain yang harus digalakkan adalah menjaga jarak. Menjaga jarak ini juga cukup efektif untuk pencegahan penularan Covid-19.

Meski paling efektif mencegah penularan Virus Corona (Covid-19), aktivitas menjaga jarak kerap kali sulit dilakukan. Misalnya di transportasi umum karena keterbatasan ruang. Untuk itu, jaga jarak juga mesti dibekali dengan pakai masker agar efektif.

Tak hanya itu saja, sebisa mungkin masyarakat harus menghindari kerumunan yang berpotensi mempersempit ruang jaga jarak dengan orang lain yang tidak dikenal. 

Makanya, segala macam kegiatan yang bisa mengumpulkan orang dilarang selama pandemi Virus Corona (Covid-19) saat ini.

Secara umum, 3M adalah benteng utama bagi setiap orang untuk menghindarkan diri dari paparan Virus Corona, terlepas dari kondisi tubuh orang bersangkutan. 

Apalagi, imunitas seseorang berbeda-beda. Namun jika bentengnya kuat, pertahanan melawan virus ini bisa maksimal.Protokol 3M harus dilaksanakan secara masing-masing oleh semua orang tanpa terkecuali dalam kehidupan sehari-hari.[]