News

Kasus Baru Meroket Tajam, Pasien Tewas COVID-19 di Spanyol Resmi Lampaui China


Kasus Baru Meroket Tajam, Pasien Tewas COVID-19 di Spanyol Resmi Lampaui China
Seorang pasien COVID-19 terlihat dipindahkan ke hotel yang dirawat di Madrid, Spanyol. Sementara dalam kasus pandemi COVID-19 ini, dokter dan perawat setempat dilaporkan ikut mengeluhkan kurangnya peralatan perlindungan dasar (The Guardian)

AKURAT.CO, Setelah Italia, kini Spanyol dilaporkan ikut menyalip China terkait dengan jumlah angka kematian pasien COVID-19. Bahkan, sama seperti Italia pada pekan lalu, angka kenaikan kematian karena COVID-19 di Spanyol begitu meroket hingga melebihi 650 orang hanya dalam waktu 24 jam saja.

Dengan angka kematian yang mencapai lebih dari 3.600 orang, Spanyol kini resmi berada di depan China, dan menjadi yang tertinggi kedua di dunia.

Dalam pantauannya terkini, Worlometer pada Kamis (26/3) lantas mencatat bagaimana dalam 24 jam terakhir ini, jumlah kasus kematian baru di Spanyol mencapai angka hingga 656 jiwa. Dengan lonjakan anyar tersebut, angka kematian karena COVID-19 di Spanyol langsung menyentuh angka 3.647.

Angka pasien yang tewas tersebut jelas lebih besar daripada China yang dicatat memiliki jumlah angka kematian mencapai 3.287 (360 lebih sedikit dibanding Spanyol). Sementara, Italia diketahui masih bertengger di puncak dengan angka kematian mencapai 7.503 orang.

Sedangkan dalam tingkat infeksi, Spanyol masih berada di urutan ke-4 dengan kasus pasien mencapai 49.515 orang. Pun, tambahan kasus baru infeksi mengalami peningkatan hingga 7.457 dalam 24 jam terakhir ini.

Kemudian, BBC pada Kamis (25/3) melaporkan bagaimana Madrid menjadi wilayah yang paling parah terkena dampak COVID-19. Meski begitu, Catalonia juga disebutkan mengalami peningkatan kasus yang terbilang brutal.

Tidak hanya itu, krisis pandemi ini bahkan dilaporkan ikut menyeret Wakil Perdana Menteri Spanyol, Carmen Calvo, sebelumnya ia telah dinyatakan positif mengidap virus SARS-CoV-2. Pada Minggu (22/3) lalu, Calvo pun dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami gejala pernapasan.

Selain itu, anggota parlemen juga dilaporkan akan mulai memberikan suara untuk memperpanjang keadaan darurat negara selama dua minggu hingga 11 April mendatang. Di bawah aturan tersebut, warga jelas akan dilarang meninggalkan rumah kecuali untuk membeli persediaan dan obat-obatan penting, atau untuk bekerja.[]

Anugrah Harist Rachmadi

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu