News

Kasus Korupsi Asabri, Kejagung Telisik Peran para Broker Saham

Kejagung sudah menetapkan sembilan nama sebagai tersangka di kasus ini


Kasus Korupsi Asabri, Kejagung Telisik Peran para Broker Saham
Tampak suasana Kantor Pusat PT ASABRI (Persero) di Jalan Mayjen Soetoyo, Cawang, Jakarta Timur, Rabu (15/1/2020). Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD menduga ada sebesar Rp10 triliun dari yayasan yang dikumpulkan dari para prajurit TNI. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Tim Jaksa Penyidik pada Direktorat Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung melakukan pemeriksaan sejumlah saksi terkait Perkara Dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di PT Asabri (Persero).

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Leonard Eben Ezer mengatakan, sebanyak 6 orang saksi diperiksa peran broker saham terkait dengan perkara Asabri.

"Pemeriksaan saksi dilakukan untuk memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan tentang suatu perkara pidana," kata Leo di kantornya, Selasa (22/6/2021).

Enam saksi yang diperiksa soal broker saham PT Asabri adalah  HL selaku selaku Direktur Utama PT. Pasific 2000 Sekuritas, diperiksa terkait pendalaman broker PT. Asabri. Lalu saksi T selaku Direktur Utama PT. Equity Sekuritas Indonesia.

Kemudian saksi LPH selaku Direktur Utama Universal Broker Sekuritas, MAS selaku Direktur Utama PT. Mahakarya Artha Sekuritas, OB selaku Direktur Utama PT. Kresna Sekuritas dan MR selaku Direktur Utama PT. Bina Artha Sekuritas.

"Para saksi diperiksa terkait pendalaman broker PT. Asabri," kata Leo.

Sementara tiga saksi lain adalah investor saham. Mereka dicecar soal transaksi saham PT Asabri. Dan kini SID mereka diblokir Kejagung.

Para adalah AAL selaku Sales Agent PT. Lotus Andalan Sekuritas Indonesia yang diperiksa terkait klarifikasi SID (Single Investor Identification). Lalu JA selaku pribadi / wiraswasta. Dan FJS selaku pribadi / wiraswasta.

Diketahui, penyidik Kejaksaan Agung (Kejakgung) menyita kepemilikan saham atas nama tersangka Heru Hidayat senilai Rp 325 miliar dari PT Trada Alam Minera (TRAM).

Penyitaan tersebut, dilakukan terkait dengan penyidikan lanjutan dugaan korupsi dan pencucian uang (TPPU) yang terjadi di PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Asabri). 

Direktur Penyidikan Penyidik Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Dirdik-Jampidsus), Febrie Adriansyah, mengatakan penyitaan saham-saham tersebut, menambah nilai sementara seluruh aset rampasan.

"Ada aset lagi yang kita sita, yaitu penyitaan saham TRAM, di SMRU (SMR-Utama) senilai lebih kurang (Rp) 325 miliar. Itu punya Heru Hidayat. Jadi sekarang, tembus sudah lebih dari (Rp) 14 triliun (nilai aset sitaan)," kata Febrie saat ditemui di gedung Pidana Khusus (Pidsus),

Kejagung sudah menetapkan sembilan nama sebagai tersangka di kasus ini. Mereka antara lain Mayjen Purn Adam Rachmat Damiri (ARD) sebagai Direktur Utama Asabri periode 2011-2016, Letjen Purn Sonny Widjaja (SW) sebagai Direktur Utama Asabri periode 2016-2020, dan Bachtiar Effendi (BE) sebagai Kepala Divisi Keuangan dan Investasi Asabri periode 2012-2015.

Lainnya yakni Hari Setianto (HS), Direktur Investasi dan Keuangan Asabri periode 2013-2019.

Selanjutnya, Ilham W Siregar (IWS), Kepala Divisi Investasi Asabri periode 2012-2017, Lukman Purnomosidi (LP), Presiden Direktur PT Prima Jaringan & Dirut PT Eureka Prima Jakarta Tbk (LCGP), Heru Hidayat (HH) Presiden PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM), Benny Tjokrosaputro (BTS) atau Bentjok sebagai Komisaris PT Hanson International Tbk (MYRX) dan Jimmy Sutopo (JS), Direktur PT Jakarta Emiten Investor Relationship.

Nama Benny Tjokro dan Heru Hidayat juga ditetapkan tersangka kasus TPPU. []