News

Kasus Asabri, Gugatan Praperadilan Penyitaan Hotel Brother Inn Ditolak

Dengan demikian penyitaan tersebut dinyatakan sah secara hukum


Kasus Asabri, Gugatan Praperadilan Penyitaan Hotel Brother Inn Ditolak
Ilustrasi - Hakim (AKURAT.CO/Candra Nawa)

AKURAT.CO Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) memutuskan menolak seluruh gugatan praperadilan yang diajukan tersangka kasus dugaan korupsi Asabri terkait penyitaan Hotel Brother Inn Sukoharjo.

Dengan demikian tim penyidik Jampidsus Kejaksaan Agung dibawah komando Direktur Penyidikan Febrie Ardiansyah selaku termohon menang atas gugatan tersebut.

Kapuspenkum Kejagung Leonard Eben Ezer Simanjuntak menjabarkan sejumlah pertimbangan hakim tunggal Akhmad Suyut yang memimpin jalannya persidangan.

"Gugatan dari pihak pemohon ke PN Jaksel menjatuhkan putusan dengan amarnya, mengadili menolak permohonan para pemohonan untuk seluruhnya," ujar Leonard kepada wartawan, Kamis (22/7/2021).

Leonard menjabarkan, bahwa penyitaan yang dilakukan pihaknya dijalankan sesuai dengan aturan yang ada.

"Sepanjang benda yang disita tersebut diserahkan secara sukarela oleh para pemohon kepada termohon kecuali pemohon tidak bersedia untuk menyerahkan barang untuk dilakukan penyitaan maka kehadiran kepala desa/ketua lingkungan menjadi bersifat imperatif," ucap dia.

Hakim tunggal Akhmad Sayuti juga menimbang Surat Edaran Jaksa Agung No. 021/A/JA/09/2015 tentang Sikap Jaksa menghadapi praperadilan tindak pidana korupsi hanya mengikat kepada lembaga Kejaksaan RI sebagai bahan pelaporan pimpinan, bukan kewajiban termohon kepada pemohon kecuali yang diatur dalam KUHAP.

Pertimbangan lainnya yakni dalam Pasal 39 ayat (1) huruf e KUHAP termohon melakukan penyitaan terhadap lahan milik pemohon III yang disewa tidak bertentangan dengan hukum karena masuk kepada materi pemeriksaan pokok perkara.

"Dengan dasar hal-hal tersebut Hakim Tunggal Praperadilan pada Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhkan putusan dengan amarnya menolak permohonan para pemohonan untuk seluruhnya," tegas dia.

Hal ini menjawab klaim kubu pemohon yang menyebut penyitaan terhadap Hotel Brother Inn Sukoharjo seharusnya dinyatakan tidak sah.

Sebelumnya, Kejagung melakukan penyitaan atas tanah dan/atau seluas 488 m2 yang terlelak di Desa Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Provinsi Yogyakarta. Di atas tanah tersebut berdiri Hotel Brothers Inn Babarsari dengan pemegang hak atas nama Jimmy Tjokrosaputro.

Sejumlah aset ini disita korps Adhyaksa sejak Mei lalu. Namun, pihak keluarga Benny Tjokrosaputro (Bentjok) melakukan perlawanan dengan mengajukan gugatan praperadilan atas penyitaan tersebut.

Bentjok yang juga Komisaris PT Hanson International Tbk (MYRX) ini adalah satu dari sembilan tersangka megaskandal Asabri.

Delapan lainnya yakni Mayjen Purn Adam Rachmat Damiri (ARD) sebagai Direktur Utama Asabri periode 2011-2016, Letjen Purn Sonny Widjaja (SW) sebagai Direktur Utama Asabri periode 2016-2020, dan Bachtiar Effendi (BE) sebagai Kepala Divisi Keuangan dan Investasi Asabri periode 2012-2015.

Lainnya yakni Hari Setianto (HS), Direktur Investasi dan Keuangan Asabri periode 2013-2019.

Selanjutnya, Ilham W Siregar (IWS), Kepala Divisi Investasi Asabri periode 2012-2017, Lukman Purnomosidi (LP), Presiden Direktur PT Prima Jaringan & Dirut PT Eureka Prima Jakarta Tbk (LCGP), Heru Hidayat (HH) Presiden PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM), dan Jimmy Sutopo (JS), Direktur PT Jakarta Emiten Investor Relationship.

Nama Benny Tjokro dan Heru Hidayat sebelumnya juga ditetapkan sebagai terdakwa kasus PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan mendapat hukuman pidana maksimal, yakni penjara seumur hidup dan kewajiban mengembalikan kerugian kepada negara.[]