News

Kasus Asabri, 3 Staf Benny Tjokrosaputro Dicecar Keterlibatan 10 Manajer Investasi

Sepuluh Manajer Investasi telah resmi menyandang status tersangka dalam kasus Asabri.


Kasus Asabri, 3 Staf Benny Tjokrosaputro Dicecar Keterlibatan 10 Manajer Investasi
Tersangka dugaan kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya yang juga Direktur Utama PT Hanson, Benny Tjokrosaputro, saat ditemui usai diperiksa di Gedung Kejagung RI, Jakarta, Selasa (25/2/2020) (AKURAT.CO/Faqih Fathurrahman)

AKURAT.CO, Tim Jaksa Penyidik pada Direktorat Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (JAM Pidsus) Kejaksaan Agung (Kejagung) terus mendalami keterlibatan 10 Manajer Investasi (MI) dalam perkara korupsi Pengelolaan Keuangan dan Dana Investasi oleh PT ASABRI (Persero). Ke-10 Manajer Investasi tersebut telah resmi menyandang status tersangka.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Leonard Eben Ezer Simanjuntak mengatakan, untuk mendalami peran tersangka, tim penyidik memeriksa tiga saksi guna menemukan fakta hukum terjadinya pidana. Mereka adalah LA, JI, dan RM merupakan staf tersangka BTS (Benny Tjokrosaputro).

"Para saksi diperiksa terkait pendalaman keterlibatan pihak lain (MI)," tutur Leo di Kejaksaan Agung, Jumat (30/7/2021).

Pada Kamis (29/7/2021) kemarin, penyidik juga telah memeriksa HS selaku Direktur Keuangan PT Rimo Internasional Lestari, Tbk. Dia diperiksa terkait pendalaman keterlibatan pihak lain dalam kasus ini.

Leo mengatakan, tim penyidik kasus Asabri masih terus menggali keterangan saksi karena diduga mengetahui rasuah ini. Sehingga, fakta hukum dalam perkara ini kian terang.

"Apa yang saksi dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri guna menemukan fakta hukum tentang tindak pidana korupsi yang terjadi pada PT ASABRI (Persero) pada beberapa perusahaan periode tahun 2012 sampai dengan 2019," kata Leo.

Diketahui, pada Rabu, 28 Juli 2021, Kejagung menetapkan 10 Manajer Investasi tersangka. Mereka adalah PT IIM, PT MCM, PT PAAM, PT RAM, PT VAM,  PT ARK, PT  OMI, PT MAM, PT AAM, dan PT CC.

Dalam gelar perkara, penyidik menemukan fakta reksadana yang dikelola Manajer Investasi yang pada pokoknya tidak dilakukan secara profesional serta independen karena dikendalikan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan pihak pengendali tersebut. Sehingga, mengakibatkan kerugian keuangan negara yang digunakan/dimanfaatkan oleh Manajer Investasi.

"Perbuatan Manajer Investasi tersebut bertentangan dengan ketentuan peraturan tentang pasar modal dan fungsi-fungsi Manajer Investasi serta peraturan lainnya yang terkait, dan mengakibatkan kerugian keuangan negara pada PT Asabri sebesar Rp 22,78 triliun," ujarnya.

Kesepuluh Manajer Investasi tersebut dijerat dengan pasal 2 juncto pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2001, Pasal 3 dan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.[]