Tech

Kaspersky: Asia Pasifik Kontributor Terbesar Pembayaran Digital Global

Permintaan yang melonjak untuk pembayaran digital telah mengubah cara masyarakat bertransaksi


Kaspersky: Asia Pasifik Kontributor Terbesar Pembayaran Digital Global
Riset: Permintaan Konsumen Terhadap Pembayaran Digital Meningkat di Indonesia Akibat Pandemi (dok. ACI Worldwide)

AKURAT.CO Selama masa pandemi ini, pembayaran elektronik sebagai salah satu pilar utama ekonomi digital telah membantu meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial miliaran orang di seluruh dunia.

Perusahaan keamanan siber Kaspersky menyatakan kawasan Asia Pasifik adalah kontributor terbesar untuk pendapatan pembayaran global. Analis memperkirakan sektor ini akan memperoleh pendapatan melebihi US$ 1 triliun pada tahun 2022 atau 2023..

Managing Director untuk Asia Pasifik Kaspersky, Chris Connell mengatakan baik online maupun offline. 

"Bisnis sekarang mendigitalkan operasi mereka untuk mendapatkan pendapatan tambahan melalui pembayaran digital, sementara konsumen sangat bergantung padanya karena kemudahan dan kenyamanan yang ditawarkan," ujarnya dalam konferensi media virtual bertema 'Menandai pergerakan uang di Asia Pasifik' Kamis (14/10/2021).

"Ini menunjukkan dengan jelas bahwa banyaknya permintaan untuk proses pembayaran yang cepat, efisien, dan berbiaya rendah akan mendorong inovasi lebih lanjut di bidang ini, dan kami melihat hal itu terjadi dengan munculnya jalur real-time payment,” tambahnya.

Selain mengenai adopsi uang elektronik yang meningkat, konferensi juga menyoroti ancaman siber yang menyertainya.

Kamluk selaku Direktur Global Research & Analysis Team (GReAT) untuk Asia Pasifik di Kaspersky, menyoroti kembali insiden pencurian Bank Bangladesh yang terkenal yang dikaitkan dengan grup APT bernama BlueNoroff, dan diyakini sebagai subdivisi keuangan dari kelompok Lazarus yang lebih besar yang melakukan spionase siber.

Kamluk juga menjelaskan tentang bagaimana grup ini telah berkembang sejak pencurian yang menjadi berita utama dan sekarang berfokus pada peningkatan nilai cryptocurrency.

“Bahkan bertahun-tahun setelah insiden pencurian Bank Bangladesh, SWIFT, bank komersial dan industri keuangan lainnya di seluruh dunia kini secara hati-hati melacak kemungkinan upaya serangan kembali dari BlueNoroff dan pencurian uang dari bank yang kurang terlindung secara mumpuni," sebut dia.

"Karena banyaknya perhatian yang ditujukan dalam periode yang lama, BlueNoroff menjadi semakin tidak berhasil dalam operasi mereka, yang akhirnya turut membutuhkan banyak upaya tambahan untuk pencucian uang dan menutupi jejak mereka. Dan di saat itulah mereka mulai beralih ke cryptocurrency, yang harganya juga meroket,” pungkas Kamluk.