Tech

Kaspersky : 3 Kekhawatiran Keamanan Siber Teratas Pada Bisnis Terkait Karyawan

Banyak karyawan menggunakan perangkat dengan tambalan lama


Kaspersky : 3 Kekhawatiran Keamanan Siber Teratas Pada Bisnis Terkait Karyawan
Teknologi keamanan siber (Istimewah)

AKURAT.CO Di dunia maya, karyawan dengan tanpa dibekali panduan informasi keamanan siber berpotensi melakukan kecerobohan dan memungkinkan penyebaran malware dan virus dalam perusahaan.

Hal itu diketahui dalam survei yang dilakukan perusahaan keamanan siber Kaspersky bahwa karyawan adalah salah satu kerentanan terbesar bisnis. Namun, lebih dari separuh bisnis percaya bahwa risiko dunia maya mereka berasal dari dalam. 

Kaspersky menyatakan tiga kekhawatiran keamanan siber teratas dari sebuah bisnis sering kali terkait dengan karyawan atau kesalahan manusia. Diantaranya berbagi data yang tidak seharusnya melalui perangkat seluler (47%), kehilangan perangkat seluler yang akhirnya menempatkan perusahaan dalam risiko (46%) dan penggunaan sumber daya TI yang tidak tepat oleh karyawan (44%).  

Kaspersky menyatakan beberapa orang mungkin menyalahkan sistem keamanan yang seharusnya dapat melindungi perangkat dari potensi kejahatan siber, terutama jika terjadi penyalahgunaan perangkat perusahaan. Namun kenyataannya adalah banyak karyawan menggunakan perangkat dengan tambalan lama (outdated), dan pelaku ancaman tahu bagaimana mengeksploitasi kerentanan ini.

Kaspersky mengungkap 64% karyawan yang berdebat dengan departemen TI mereka diizinkan untuk melewati pembaruan atau memilih aspek apa dari sistem keamanan perusahaan untuk diperbarui, dan 44% karyawan kurang peduli untuk memperbarui perangkat kerja mereka daripada perangkat pribadi.

Ini menunjukkan celah di mana karyawan tidak mempertimbangkan keamanan siber sebagai prioritas tinggi. Chris Connell selaku Managing Director Asia Pasifik Kaspersky mengatakan lebih mengkhawatirkan lagi apabila tidak adanya peran dari para pemimpin bisnis senior di perusahaan yang berpotensi memperburuk masalah sistem keamanan yang sudah ada. 

"Eksekutif senior berpotensi 12x lebih besar menjadi target ancaman dunia maya daripada karyawan lain. Selain fakta bahwa mereka memiliki akses yang lebih besar ke informasi berharga, mereka mungkin juga menikmati isu keamanan yang lebih longgar daripada karyawan lain. Sebanyak 45% dari organisasi yang disurvei mengecualikan C-suite dalam daftar rencana pembaruan perangkat perusahaan, sehingga meningkatkan kerentanan mereka terhadap ancaman siber," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Akurat.co.

"Selama masa kerja jarak jauh ini, ketika karyawan tersebar di berbagai lokasi di tanah air atau bahkan dunia, memang merupakan tugas yang menantang bagi personel TI untuk memastikan mereka terus menjalankan pekerjaannya dengan baik. Memastikan keselamatan perusahaan memang membutuhkan upaya gabungan dari seluruh pilar personel," tambah dia.