Lifestyle

Karyawan Lebih Menyukai Fleksibilitas dalam Bekerja

Pekerjaan dengan waktu yang fleksibel ternyata lebih disukai dengan hari kerja yang lebih singkat


Karyawan Lebih Menyukai Fleksibilitas dalam Bekerja
Ilustrasi - Karyawan lebih menyukai fleksibilitas dalam bekerja (Unsplash/Annie Spratt)

AKURAT.CO  Studi yang dilakukan Qualtrics pada Mei 2022 menunjukkan bahwa pekerjaan dengan waktu yang fleksibel ternyata lebih disukai (60 persen) dibandingkan hari kerja yang lebih singkat dalam seminggu (40 persen).

Hasil studi juga menunjukkan bahwa fleksibilitas juga menjadi pendorong retensi yang lebih besar (62 persen) dibandingkan empat hari kerja dalam seminggu (49 persen) di Indonesia.

Studi ini dilakukan pada 3.415 responden yang berusia 18 tahun atau lebih. Mereka bekerja secara penuh atau paruh waktu di berbagai industri di Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Singapura.

baca juga:

Secara khusus, karyawan full-time di Indonesia lebih suka fleksibilitas (58 persen) sehingga bisa bekerja sesuai waktu pilihan mereka daripada satu hari lebih sedikit di tempat kerja (42 persen).

Bagi sepertiga karyawan di Asia Tenggara (30 persen), fleksibilitas berarti memiliki kendali atas jam kerja sesuai yang diinginkan. Sementara karyawan lainnya mendefinisikan fleksibilitas sebagai bekerja dari mana saja (25 persen), diukur dengan kinerja dan bukan jam (23 persen), atau dapat memilih hari kerja (15 persen).

“Pemberi kerja tidak boleh melupakan fakta bahwa apa yang benar-benar diinginkan dan dibiasakan oleh karyawan adalah fleksibilitas dalam menyesuaikan jadwal kerja berdasarkan tuntutan hidup,” kata Lauren Huntington, Employee Experience Solution Strategist, Southeast Asia, Qualtrics, dalama keterangan resminya, dikutip AKURAT.CO, Sabtu (25/6/2022).

Di sisi lain, ada 83 persen responden mendukung penerapan empat hari kerja dalam seminggu.

Adapun pertanyaan terkait empat hari kerja dalam seminggu hanya dijawab oleh karyawan yang berjumlah 2.846 responden, dengan 635 responden berasal dari Indonesia.

Responden percaya bahwa empat hari kerja dalam seminggu dapat memberikan dampak positif, diantaranya :

  • Keseimbangan kehidupan bekerja (84 persen)
  • Kesejahteraan mental (79 persen),
  • Produktivitas (80 persen)
  • Merasa lebih setia kepada pemberi kerja (79 persen)

Namun, empat hari kerja ternyata juga memberi dampak yang tidak diharapkan, yaitu : 

  • Dua pertiga (68 persen) responden di Indonesia mengatakan mereka akan memiliki jam kerja yang lebih lama
  • 63 persen mengatakan kinerja perusahaan akan menurun
  • 55 persen percaya pelanggan akan frustasi

Responden dari seluruh Asia Tenggara mengungkapkan kekhawatiran yang sama.

86 persen responden mendukung pendekatan dimana kinerja karyawan diukur berdasarkan hasil dan bukan jam serta hari kerja.

Secara khusus, responden melihat secara positif peningkatan efisiensi, fokus, dan pembuatan lingkungan kerja yang merata.