Olahraga

Karena Insiden Abu Dhabi, Bos McLaren Usulkan Reformasi F1 dan FIA

Menurut Brown, insiden di Abu Dhabi sebagian disebabkan oleh terlalu banyak campur tangan dari konstruktor.


Karena Insiden Abu Dhabi, Bos McLaren Usulkan Reformasi F1 dan FIA
Lewis Hamilton dan Max Verstappen saat menjalani balapan di Grand Prix Abu Dhabi 2021, Desember lalu. (Formula1.com)

AKURAT.CO, CEO McLaren, Zak Brown, menilai bahwa jajaran petinggi Formula One (F1) dan Federasi Otomobil Internasional (FIA) perlu direformasi. Usulan ini menyusul insiden di Grand Prix (GP) Abu Dhabi 2021, Desember lalu.

Pekan lalu, FIA mengumumkan bahwa mereka sedang menyelidiki peristiwa yang membuat Max Verstappen memenangkan gelar secara dramatis melawan Lewis Hamilton di Sirkuit Yas Marina. Hasil investigasi tersebut rencananya akan diumumkan pada bulan Maret karena FIA perlu melakukan analisis terperinci lebih dulu.

Menanggapi hal itu, Brown menegaskan kembali pandangannya bahwa tim analisis itu sendiri memiliki terlalu banyak suara dalam keputusan yang akan dibuat. Hal itu menunjukkan bahwa insiden di Abu Dhabi sebagian disebabkan oleh terlalu banyak campur tangan dari konstruktor.

baca juga:

"Jelas bahwa beberapa aturan dan tata kelolanya tidak dapat diterima sebagaimana adanya. Tidak ada yang senang dengan inkonsistensi dalam pengaturan kebijakan peraturan, tetapi yang telah biasa dimanfaatkan oleh tim untuk keunggulan kompetitif,” kata Brown seperti dikutip dari Crash, Selasa (18/1).

“Saya telah mengatakan sebelumnya bahwa tim memiliki terlalu besar kekuasaan dan itu perlu dikurangi. Kami memiliki peran penting dalam penyusunan peraturan dan tata kelola Formula 1 dan pengaruh itu tidak selalu didorong oleh apa yang terbaik secara keseluruhan untuk olahraga."

Menurut Brown, pandangan informasi dari seluruh tim F1 harus dipertimbangkan dan dikonsultasikan, terutama tentang isu-isu strategis jangka panjang. Namun, dia merasa terkadang hal itu justru seolah terlihat diatur oleh tim tertentu.

“Janganlah kita lupa bahwa kita, tim, telah berkontribusi pada inkonsistensi dalam penegakan peraturan seperti halnya siapa pun. Timlah yang menerapkan tekanan untuk menghindari menyelesaikan balapan di bawah Safety Car dengan cara apa pun,” tambah Brown.

"Tim-tim yang memilih banyak peraturan yang mereka keluhkan. Tim-tim yang telah menggunakan penyiaran pesan radio kepada race director untuk mencoba mempengaruhi penalti dan hasil balapan, sampai titik di mana seorang Team Principal yang bersemangat bermain ke galeri dan menekan ofisial balapan. Ini tidak membangun untuk F1. Kadang-kadang terasa seperti audisi pantomim daripada puncak olahraga global."

Lebih jauh, Brown mengutarakan harapannya terhadap Mohammed Ben Sulayem yang terpilih sebagai Presiden FIA yang baru. Dia pun yakin bahwa eks pereli WRC itu akan membawa F1 menjadi lebih cerah di masa depan.

"Saya yakin bahwa kita akan melihat peningkatan kepemimpinan dari FIA dan F1, dan bahwa secara kolektif sebagai pemelihara olahraga, kita akan fokus pada pengembangan olahraga dan tidak mengabaikan tanggung jawab dalam pengambilan keputusan yang sulit," ucap Brown.[]