Olahraga

"Kami Dipasangkan karena Sama -sama Enggak Punya Pasangan"

Greysia Polii/Apriyani Rahayu mencetak sejarah dengan menjadi pasangan Indonesia pertama yang menjuarai Olimpiade Tokyo 2020.


Pasangan ganda putri Indonesia, Greysia Polii/Apriyani Rahayu, ketika merayakan keberhasilan mereka memenangi medali emas Olimpiade Tokyo 2020 di Tokyo, Jepang, Senin (1/8). (TWITTER/Olimpiade Tokyo 2020)

AKURAT.CO, Greys dan Apri, demikianlah kini publik semakin terbiasa dengan panggilan duet ganda putri bulutangkis nasional Indonesia, Greysia Polii/Apriyani Rahayu. Mereka menjadi bahan pembicaraan karena telah mempertahankan tradisi dengan merebut medali emas di Olimpiade Tokyo 2020 sebagai satu-satunya emas bagi Indonesia.

Dalam euforia kegembiraan Indonesia, editor Akurat.co, Dian Eko Prasetio, berkesempatan mewawancarai langsung secara virtual Greys/Apri pada Senin (9/8).

Dalam kesempatan itu, Greys/Apri bicara soal ketegangan pasangan China yang mereka kalahkan di final Olimpiade Tokyo, momen pertama kali diduetkan, dan perjalanan Apriyani yang nyaris menyerah untuk impiannya menjadi pebulutangkis. Berikut petikannya:

Apa yang dilakukan saat karantina sepulang dari Olimpiade Tokyo 2020?

Greys: Karantina seperti biasa, kami melakukan hal-hal sendiri aja, enggak ada kegiatan lain, dan paling karena ini kami juga kan kemarin habis juara (medali emas Olimpiade) jadi ya kami sedikit banyak diisi waktunya sama Akurat.co dan teman-teman media lainnya yang mau interview. Jadi kami mengisi waktu luangnya dengan ini.

Kami Dipasangkan karena Sama -sama Enggak Punya Pasangan - Foto 1
Ganda putri andalan Indonesia, Greysia Polii/Apriyani Rahayu, saat tampil di Olimpiade Tokyo.

Apakah kemenangan melawan Yuki Fukushima/Sayaka Hirota di babak penyisihan membentuk motivasi kalian?

Apri: Pertama-tama kita kan memang bisa dibilang jauh ya head-to-head-nya, tapi pada saat kemarin saya pribadi mindset-nya itu memang sudah harus siap gitu. Kan sebelum ke lapangan sudah benar-benar harus fokus, jadi saya enggak mikirin biasanya saya kalah, biasanya ini head-to-head-nya lebih jauh, udah enggak mikir itu. Pokoknya di lapangan fokus dan mati-matian di lapangan  gitu sih.

Apakah menurut kalian pasangan China Chen Qingchen/Jia Yifan tegang di partai final?

Apri: Saya enggak tahu ya mereka kelihatan tegang apa enggak, tapi permainan mereka enggak keluar.

Greys: Iya mereka terlihat sekali tegang, dari sebelum masuk  ke lapangan sudah kelihatan mimik mukanya kelihatan tegang gitu.

Siapa yang lebih kelihatan?

Greys: Yang paling kelihatan tegangnya sih Chen Qingchen.

Bagaimana kesan Greys waktu pertama kali ketemu Apri, dan saat pertamakali diduetkan?

Greys: Memang waktu kami latihan bersama, Apri juga masih di tahun 2017, itu Apri karena dia juga masih baru masuk juga. Kan kalo di latihan itu kita suka dipasangin, pasangannya suka random, salah satunya bisa dengan Apri juga. Dan memang ada momen di mana waktu itu temen-temen yang lain pada pergi yang tersisa tuh cuman saya dan Apri karena kami berdua enggak ada pasangan pada saat itu. Jadi cuma hanya saya dan Apri dan pertama kami latihan, saya masih ingat kami melawan ganda laki-laki, nah pelatih lihat ada kecocokan di antara kami berdua, jadi kayaknya pas enggak ada pasangan, dua-duanya enggak ada pasangan, saya enggak ada pasangan Apri juga enggak ada pasangan, jadi kami dipasangkan oleh pelatih kami.

Kami Dipasangkan karena Sama -sama Enggak Punya Pasangan - Foto 2
Pasangan ganda putri terbaik Indonesia, Greysia Polii/Apriyani Rahayu, saat berlatih di Pelatnas PBSI di Cipayung, Jakarta, Selasa (7/5). AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

Kalau Apri bagaimana dipasangkan dengan pemain yang jauh lebih senior?

Apri: Yang pasti awalnya ada minder, “aduh saya pasangan sama senior lagi”. Tapi di balik itu semua ada rasa syukurnya. Ini ada kesempatan, dan Allah kasih jalan ini gitu, karena enggak sembarangan loh. Jadi, kayak, “ah udah saatnya nih Pri, ayo ngomong sama diri sendiri, ayo kalo enggak dari sekarang kapan lagi kayak gitu. Jadi kayak lebih semangat gitu loh pada akhirnya.  Kalau semua soal umur kan bisa emang jauh ya pastinya juga sering nanya-nanya mau belajar jadi udah jadi terjalin aja gitu-gitu.

Cara mendapatkan chemistry?

Apri: Chemistry-nya sih lebih ke komunikasi dan saling percaya, baik di dalam dan di luar lapangan. Karena kan pasti saya juga kalo bertanggung jawab sama diri saya sendiri, pasti kan itu dilampiaskan juga dengan Kak Greys, jadi memang itu yang saya lebih utamakan. Gitu sih, pada akhirnya kan chemistry-nya berjalan aja.

Apakah karena tak dibebani seperti nomor ganda putra menjadi salah satu faktor kalian meraih emas?

Greys: Dari kita persiapan untuk target PBSI itu sebenarnya, yang diucapkan di media massa yang disebarkan di media itu kan yang pasti yang notabene punya ranking, itu wajar, punya ranking seperti ganda putra, mereka punya rangking dunia yang sangat bagus saat ini.

Dan teman-teman saya yang lain yang ditargetkan, tetapi sebenarnya di dalam PBSI itu, kami juga salah satu yang di yang diharapkan  kayak gitu, jadi kami coba karena kan penampilan kami sebelum-sebelumnya, misal di Januari kami bisa menjuarai super 1000, jadi ada pengharapan juga juga kami bisa at least menyumbang medali. Dan kami selalu mau untuk mengambil sisi positifnya di semua harapan atau beban yang dikasih kepada kami.

Kami Dipasangkan karena Sama -sama Enggak Punya Pasangan - Foto 3
Greysia/Apriyani di podium medali emas Olimpiade Tokyo 2020. 

Jadi ya itu sih, namanya permainan, namanya olahraga ada menang kalah, sekarang bisa menang, besok bisa kalah, kayak gitu, kita sama-sama bahu-membahu untuk mendukung Indonesia, terlepas dari sektor mana aja.

Buat Greysia, kamu kan pernah bilang sudah menyadari terlahir sebagai pebulutangkis sejak usia 13 tahun, apa yang bikin kamu punya kesadaran itu?

Greys: Iya waktu itu memang waktu saya pergi ke Jakarta sekitar umur delapan tahun. Emang saya mau main bulutangkis. Setelah masuk asrama, masuk binaan lebih ketat lagi, lebih intens lagi, saya jadi mulai menyadari bahwa saya pengen ambil bulutangkis ini sebagai karier saya, sebagai tujuan hidup saya gitu.

Karena ngelihat apa yang bisa saya lakukan pada saat itu dengan misalnya latihan main bulutangkis bisa ada kejuaraan yang bisa saya juarai jadi saya sadar bahwa bulutangkis ini udah betul betul jadi salah satu jalan kehidupan saya pada saat itu.

Dan itu semua karena ada histori Indonesia yang sangat bagus, saya melihat senior-senior saya mereka bisa juara olimpiade itu, jadi ada pada suatu harapan bahwa saya juga bisa, saya juga ingin berprestasi seperti kakak-kakak senior saya.

Saya juga mempelajari sejarah bulutangkis juga waktu di SMP, yang belum ada medalinya (emas) itu ganda putri. Waktu itu kan juga sudah ada senior-senior yang bagus, saya juga sudah tahu, tapi belum ada yang betul-betul juara di event-event penting, bahkan tertinggi seperti di olimpiade ini. Jadi saya punya harapan ingin mengisi ini, tekad saya pengen isi slot kosong ini. Ini juga bukan buat kebanggaan saya sendiri, tapi kebanggaan bangsa indonesia bisa mengisi slot kosong ini.

Kami Dipasangkan karena Sama -sama Enggak Punya Pasangan - Foto 4
Greysia Polii/Apriyani Rahayu/Antara Photo.

Kalau Apri sendiri bagaimana?

Apri: Pada saat itu, sekitar SMP kelas 1 atau kelas 2 gitu, jadi pada saat itu memang itu kan memang ada drama juga ya di situ. Jadi saat itu dulu saya udah mau berhenti juga. Jadi udahlah sekolah aja sambil cuman hanya main-main doang.

Berarti pada saat itu tidak main bulutangkis secara serius?

Diseriusin sih, waktu itu kan ada kejuaraan porprov (pekan olahraga provinsi) di kampung saya itu, terus dari situ ada ada omongan dari pemerintah untuk bawa saya ke Jakarta, pada saat itu. Berselang setelah pertandingan itu, sebulan atau dua bulan gitu, masa saya mau nanyain juga kan enggak enak juga ya, kok ini enggak ke Jakarta, padahal saya sudah sesuai target kok malah enggak ada informasi apapun. Jadi pada saat itu saya itu ke Kendari, Kendari dengan kampung saya kan berbeda tuh, saya kan di Konawe. Jadi saya pindah ke Kendari karena pelatih saya juga pindah. Di Kendari udah pindah tuh, udah sampai pindah sekoah.

Pada saat itu masih menanti kepastian ya?

Sebenarnya sih udah enggak menantikan itu sih, jadi kayak ya udahlah terserah aja deh. Enggak lama saya di Kendari itu sekitar dua minggu deh kalau enggak salah, tiba-tiba saya ditelepon pengurus yang di Konawe. Hari ini ayo kita ke Jakarta, tiket pesawat segala macem sudah ada, lah kan kita kaget ya, udah pindah sekolah udah beli baju sekolah segala macem. Habis dari situ ya udah pelatih saya bilang “kalau sekolah gampang lah”. Pada hari itu juga saya pulang ke Konawe, beresin baju segala macam, packing enggak lama pergi ke Jakarta.

Nah dari situlah, pas ke Jakarta ini nih berarti emang jalan  ku ini memang di bulutangkis. Kan kita juga enggak tahu ya mas kalau bukan rejeki kita di bulutangkis, bisa aja dari situ enggak ada hubungan apa-apa.

Mungkin ada sedikit motivasi yang bisa kalian berikan untuk atlet-atlet junior?

Greys: Melalui ini saya ingin menyampaikan buat adik-adik junior di bulutangkis, maupun anak-anak muda Indonesia ya memang kita harus mempunyai semangat. Kita punya bakat, tapi jika kita tidak ada hati atau jiwa seseorang pemenang, itu kita tidak bisa sampai ke apa yang kita mau, jadi seenggaknya kita harus mengimbangi semua bakat kita dan kemauan kita itu bersama. Jadi tetap terus semangat dan raih semua cita-cita, gali setiap potensi yang ada, sehingga masa depan pasti akan mengikuti.[]