Rahmah

Kalimatun Sawa sebagai Titik Temu Agama-Agama


Kalimatun Sawa sebagai Titik Temu Agama-Agama
Halim Khairi dalam Webinar Tafsir (AKURAT)

AKURAT.CO, Webinar tafsir Al-Qur’an Akuratco dan Akurat Poll menghadirkan Halim Miftahul Khoiri, Alumnus George Washington University, Washington DC. Program yang disiarkan langsung melalui Zoom, Instagram dan Youtube Akuratco dan Akurat Poll ini dilaksanakan pada Senin (17/082020).

Halim, begitu panggilan Halim Miftahul Khoiri, memberikan paparan seputar tafsir Al-Qur’an yang berkaitan dengan titik temu agama-agama. Menurut Halim, Islam yang dipahami banyak orang dan Islam yang dimaksud dalam Al-Qur’an berbeda. Orang Islam memahami bahwa Islam yang diyakininya adalah ajaran yang diturunkan oleh Nabi Muhammad. Sedangkan dalam Al-Qur’an, makna kata Islam tidak memiliki konotasi institusi agama tertentu, akan tetapi bermakna berserah diri.

“Dalam Al-Qur’an, Islam adalah esensi atau inti dari ajaran Nabi Muhammad, Nasrani dan Yahudi.” kata Halim pada webinar yang dihadiri oleh ratusan peserta tersebut.

Halim juga menambahkan, jika kita membaca QS. Ali-Imran: 64 secara cermat, maka kita akan memahami esensi dari makna Islam itu.  Pada ayat tersebut terdapat kata “ta’alaw”, yang dalam istilah sufi disebut dimensi transenden (muta’aliyah). Dimensi ini berlaku bukan hanya untuk agama/ajaran Nabi Muhammad, tetapi juga bagi tradisi Abrahamik.

“Pada QS. Ali Imran: 64 kalimatun sawa menjadi tujuan akhir bagi agama-agama, tidak hanya Islam. Semua agama bisa mencapai pada sebutan “muslimun; berserah diri”, jika memenuhi tiga hal; pertama, tidak menyembah selain Allah. Kedua, tidak mempersekutukan Allah dengan apapun. Dan ketiga, tidak menganggap sebagian dari sesama penganut tradisi Abrahamik sebagai rabb selain Allah.”demikian Halim memaparkan ayat Al-Qur’an tersebut.

Halim menyebut bahwa, kalimatun sawa, yang berarti tujuan tertinggi, adalah pencapaian puncak semua agama-agama. Bahkan, tambah Halim, predikasi kafir pada dasarnya bisa disandang oleh siapapun, bukan hanya orang non-Islam, selama ia tidak menuju kalimatun sawa yang dimaksudkan Al-Qur’an.

Di lain itu, pada dasarnya, semua agama-agama juga akan selamat, tidak hanya Islam. “Jika kita membaca QS. Al-Maidah: 69, ditegaskan bahwa orang yang beriman, Yahudi, Shabi’in, Nasrani, selagi mengimani hari akhir dan berbuat amal salih, maka tidak perlu takut (takut tidak selamat). Pada ayat tersebut memisahkan satu agama dengan agama lain dengan huruf athaf “wawu”, yang berarti semua agama pada ayat tersebut terbawa dan berpotensi selamat (tidak menemui ketakutan).”, tegas Halim.

Pada webinar yang juga bekerjasama dengan Universitas Paramadina Jakarta ini, Halim juga menambahkan, bahwa Islam hanyalah agama partikular, sebagaimana agama-agama lain. Itu disebut dalam QS. Al-ma’idah: 3. Agama yang universal yang menjadi posisi semua agama adalah agama di sisi Allah sebagaimana dalam QS. Ali-Imran: 19.[]