Rahmah

Kala Rasulullah Menghormati Jenazah Non-Muslim


Kala Rasulullah Menghormati Jenazah Non-Muslim
Anak mendiang Omaswati, Dinda (kedua kanan) bersama keluarga mendampingi jenazah menuju pemakaman di Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Jumat (17/7/2020). Seniman betawi Omaswati atau Omas meninggal dunia pada usia 54 tahun pada Kamis (16/7/2020) sekitar pukul 19.30 WIB karena sakit. (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO m Menghormati orang yang sudah wafat adalah suatu keharuan. Baik itu dengan mengirimkan doa atau bacaan-bacaan. Baik kepada sesama muslim maupun non Muslim.

Cara Rasulullah bergaul dengan non muslim sebagaimana dikutip dalam buku Cara Rasulullah Bergaul dengan non muslim karya Alaik Salamullah, disebutkan hadis tentang penghornaran Nabi kepada jenazah non Muslim, sebagai berikut: Rasulullah SAW bersabda:

عن جابر بن عبد الله قال : مَرَّتْ جَنَازَةٌ فَقَامَ لهَا رَسولُ الله صلى الله عليه وسلم وَقُمْنَا مَعه فَقُلْنَا : يَارَسولَ الله اِنَّهَا يَهُودِية فَقَالَ إِنَّ المَوْتَ فَزَعٌ . فَاِذَا رَاَيْتُمْ الجَنَازَةَ فَقُومُوا . رواه مسلم

 Artinya: “Jabir bin Abd Allah mengatakan, “Suatu hari kami melihat keranda jenazah lewat. Nabi kemudian berdiri. Kami pun ikut berdiri bersamanya. Lalu kami mengatakan, “Wahai Nabi, itu jenazah orang Yahudi”. Beliau mengatakan, “Kematian itu membuat kesedihan yang mendalam. Bila kalian melihat jenazah, berdirilah.” (HR: Muslim, nomor: 2181).

Dalam sebuah hadis yang diriwayat sahihain Rasulullah SAW bersabda tentang pentingnya menghormati jenazah:

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّيَ فَلَهُ قِيرَاطٌ وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ

Artinya: “Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW:siapa yang menyaksikan jenazah (dari rumahnya) dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala sampai disalatkan maka ia mendapat pahala satu qirath, dan siapa yang mengiring jenazah (dari rumahnya) sampai mayit dikuburkan maka baginya dua qirath, kemudian ditanya “seperti apa dua qirath itu? Yaitu sebesar dua gunung yang besar” (HR: Bukhari dan Muslim).

Rasulullah adalah pribadi yang mulia dan toleran. Bukan hanya kepada sesama muslim ia mengasihi, tetapi juga kepada non muslim. Jika kepada jenazah non muslim saja nabi hormat, kenapa kepada manusia yang masih hidup justru kita masih berseteru? Wallahu A'lam.[]