News

Kader GMNI Diajak Perbaiki Nasib Petani

Dalam setahun lahan pertanian berkurang kurang lebih dari setengah juta hektare


Kader GMNI Diajak Perbaiki Nasib Petani
Benny Edysaputra Sijabat, Koordinator Persatuan Alumni GMNI Agraria (PAGAR) (ISTIMEWA )

AKURAT.CO  Koordinator Persatuan Alumni GMNI Agraria (PAGAR) Benny Edysaputra Sijabat menyoroti peran kader alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang dinilai belum menyentuh advokasi kebijakan dan ekonomi. Alumni GMNI selama ini dianggap lebih dominan memberikan advokasi-advokasi politik dan hukum. 

Menurut Benny, selain mengambil jalan advokasi kebijakan dan ekonomi, kader GMNI haruslah melakukan upaya inovasi dan perbaikan sistem tata kelola petani dan pertanian di Indonesia. Abad 21 adalah abad penuh kecanggihan teknologi dan inovasi.

"Tanah atau lahan merupakan hal yang penting dalam dunia pertanian. Tanpa lahan yang memadai dan cukup negara manapun akan mengalami kesulitan besar dalam membangun dunia pertanian," kata alumnus Fakultas Peternakan UNPAD itu dalam keterangannya, Rabu (1/12/2021). 

Dia menjelaskan, selama ini peran kader GMNI lebih tertuju kepada advokasi politik dan hukum dengan melakukan advokasi lahan untuk petani tapi belum menyentuh kepada advokasi kebijakan dan ekonomi petani itu sendiri. Sehingga sekalipun telah memiliki lahan, para petani tetap tidak bisa memanfaatkannya untuk kegiatan pertanian produktif. 

"Seringkali ketika petani mendapatkan lahan untuk bertani, petani kebingungan untuk berproduksi. Akhirnya lahan pertanian pun berpindah tangan dan berubah fungsi," ujar kader muda Partai Golkar tersebut.

Dia mengungkapkan, berdasarkan data BPS jumlah lahan pertanian terus menurun dari tahun ke tahun. Pada 2017 lahan pertanian Indonesia seluas 7,71 juta hektare. Lalu pada tahun 2018 tinggal 7,10 juta hektare. 

"Dalam setahun saja berkurang kurang lebih dari setengah juta hektare. Sedangkan Menurut Menteri Pertanian Yasin Limpo lahan pertanian selalu berkurang sekitar 60.000 hektare setiap tahunnya," katanya. 

Dia mempertanyakan alasan lahan pertanian selalu berkurang setiap tahun sementara aktivis yang melakukan pembebasan lahan untuk petani juga banyak yang berhasil. Dia mengatakan, titik persoalannya adalah kegiatan usaha pertanian tidak menguntungkan petani.

"HPP (harga pokok penjualan) dan BEP (break even point) dalam dunia pertanian tidak sebanding dengan hasil yang di lakukan. Harga bibit dan pupuk serta biaya pengelolaan pertanian tidak sebanding dengan hasil yang di hasilkan. Efek dari persoalan hasil pasca panen yang tidak menguntungkan petani berimbas kepada semakin berkurangnya jumlah petani di Indonesia," katanya.[]