Lifestyle

Selain Pola Asuh Buruk, Pendidikan Orangtua Bikin Anak Kena Stunting

Muhadjir Effendy mengungkap ada empat daerah, yang angka stuntingnya tinggi karena rendahnya tingkat pendidikan sehingga berdampak kepada pola asuh anak


Selain Pola Asuh Buruk, Pendidikan Orangtua Bikin Anak Kena Stunting
Ilustrasi pengukuran bobot tubuh anak, mengantisipasi stunting (ISTIMEWA)

AKURAT.CO, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy mengungkap bahwa ada empat daerah, yang angka stuntingnya di atas rata-rata nasional. Salah satunya karena kurangnya rendahnya tingkat pendidikan sehingga berdampak kepada pola asuh anak.

"Berdasarkan hasil kunjungan kerja saya ke beberapa daerah, para kepala daerah melaporkan bahwa di daerahnya masih ada angka stunting yang sangat tinggi, bahkan ada yang berada di atas rata-rata nasional," ujar Muhadjir, saat Webinar Rakornas Percepatan Penurunan Stunting, pada Senin, (23/8).

Adapun daerah yang memiliki angka stunting tinggi, menurut Muhadjir, antara lain Kabupaten Jeneponto, Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Minahasa dan Kabupaten Nias Selatan.

"Contoh, maaf, prevelensi angka stunting di Sulawesi Selatan di Kabupaten Jeneponto masih 41,3 persen, sedangkan di Kabupaten Bantaeng 21 persen. Di Sulawesi Utara Kabupaten Minahasa 38,6 persen. Lalu, Sumatera Utara Kabupaten Nias Selatan masih di atas rata-rata nasional yaitu 57 persen," katanya.

Hal ini berbeda dengan yang terjadi di Kabupaten Sukabumi, yang prevelensi angka stunting telah turun. Akan tetapi, angka prevelensi tersebut masih jauh dari target percepatan penurunan stunting pemerintah pada 2024 yakni 14 persen.

"Kondisi ini berbeda dengan angka stunting di Kabupaten Sukabumi yang sudah ada di bawah rata-rata angka nasional yakni 21,9 persen, tetapi masih jauh dari angka target 2024 yaitu 14 persen," ucapnya.

Muhadjir juga mengatakan, ada beberapa faktor penyebab tingginya angka stunting di beberapa daerah yang sempat dia kunjungi, antara lain kurangnya asupan gizi yang sangat kronis, rendahnya cakupan akses air bersih yang cukup dankualitas serta sanitasi yang rendah.

"Kemudian karena rendahnya tingkat pendidikan yang diambil orangtua, mengakibatkan polah asuhnya rendah karena pemahaman mereka tentang hal yang diperlukan dalam mengasuh anak rendah. Lalu, kurangnya tenaga kesehatan terutama ahli gizi yang bertugas memantau tumbuh kembang anak dan balita," kata Muhadjir.

Sementara itu, Muhadjir mengatakan pandemi Covid-19 memberikan pengaruh terhadap penurunan angka stunting. Dia memperkirakan angka stunting dapat mengalami peningkatan terhadap kelompok rentan Covid-19.

"Angka stunting kemungkinan juga mengalami peningkatan terutama pada kelompok miskin yang akan terus mengalami dampak Covid-19, yaitu menurunnya daya beli keluarga terhadap pangan yang bergizi," tuturnya.

Adapun Muhadjir mengatakan bahwa kebijakan nasional dalam percepatan penurunan stunting akan terus diperbaiki melalui berbagai evaluasi, disesuaikan dengan kultur, sumber pangan lokal, upaya-upaya berkelanjutan sehingga menjadi budaya perbaikan gizi.

"Saya berharap semua kementerian dan lembaga, para gubernur, para bupati, wali kota serta pemangku kepentingan saling bersinergi dalam pelaksanaan, pemantauan, evaluasi dan pelaporan untuk percepatan pencegahan stunting ini. Karena stunting disebabkan berbagai multi dimensi seperti akses pangan, layanan kesehatan dasar, akses air bersih berkualitas, sanitasi, serta pola pengasuhan anak," pungkasnya.[]