Ekonomi

Jurus Surya Semesta Internusa Hadapi Dampak Corona


Jurus Surya Semesta Internusa Hadapi Dampak Corona
Aktifitas pembangunan apartemen di Tanjung Barat, Jakarta, Minggu (18/2). Survei Perkembangan Properti Komersial Bank Indonesia (BI) menunjukkan, terjadi kenaikan 0,58 persen. Kenaikan harga properti komersial terjadi pada segmen convention hall (1,88 persen) di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jabodebek) (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO PT Surya Semesta Internusa Tbk, membukukan total pendapatan sebesar Rp882 miliar di kuartal I-2020. Posisi itu mengalami peningkatan 7,1 persen bila dibandingkan pendapatan Rp823,7 miliar di kuartal I-2019.

Adapun peningkatan pendapatan terutama disebabkan dari segmen properti dan konstruksi masing?masing naik 20 persen dan 11,8 persen. Sementara itu, pendapatan segmen bisnis perhotelan SSIA turun 15,1 persen, karena tingkat hunian menurun pada bulan Februari dan Maret 2020, dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (20/5/2020).

Posisi pendapatan yang tidak naik terlalu tajam, membuat laba kotor di kuartal 1-2020 menjadi Rp179,9 miliar, turun 5,1 persen dari laba kotor pada kuartal I-2019 sebesar Rp189,5 miliar. Sementara itu, EBITDA perusahaan pada kuartal I di tahun ini mencapai Rp64,1 miliar, atau 11,7% lebih rendah dari EBITDA kuartal I di tahun 2019 sebesar Rp72,6 miliar.

Perusahaan berkode saham SSIA ini juga menggenggam kerugian bersih sebesar Rp17,4 miliar di kuartal I-2020, dari posisi Rp10,9 miliar di periode sama tahun lalu. Hal itu dikarenakan kenaikan beban bunga sekitar 23,7 persen dari Rp38,0 miliar di kuartal I-2019 menjadi Rp47,0 miliar di kuartal I-2020. 

Manajemen SSIA mengakui pandemi COVID?19 telah mempengaruhi aktivitas kinerja keuangan dan tiga pilar utama bisnis SSIA. Khususnya di unit bisnis perhotelan karena dampak penerapan physical distancing, pembatasan perjalanan, dan penutupan bandara untuk penerbangan komersial baik di Jakarta dan Bali.

Sementara itu, perusahaan telah melihat tingkat hunian hotel turun secara dramatis mengakibatkan penurunan besar? besaran sekitar 50% ? 60% dari pendapatan perhotelan untuk periode kuartal II?2020. Perusahaan telah menutup hotel bintang 5 ? Gran Melia Jakarta (GMJ), Hotel Melia Bali (MBH) dan Banyan Tree Ungasan Resort (BTUR) ? sejak akhir Maret / awal April hingga diperkirakan akhir Mei 2020.

Manajemen telah melakukan beberapa langkah penghematan biaya untuk mempertahankan arus kas negatif seperti pengurangan gaji dan upah melalui cuti yang dibayar, diikuti oleh cuti yang tidak dibayar untuk sebagian besar karyawan, pengurangan biaya utilitas, negosiasi ulang kontrak outsourcing melalui diskon atau perpanjangan periode kontrak, mengurangi biaya tetap lainnya, yang menghasilkan penghematan biaya sekitar 30% untuk bulan April dan Mei 2020.

Selanjutnya, manajemen SSIA juga telah bernegosiasi dengan pemberi pinjaman tentang pengurangan suku bunga dan perpanjangan pembayaran pokok menjadi 1 tahun untuk tahun ini. Perusahaan berharap industri perhotelan akan mulai pulih di periode kuartal III?2020.

Kinerja kas perusahaan juga mengalami penurunan 9,9 persen menjadi Rp1,375 triliun di kuartal I-2020, dari posisi Rp1,52 triliun di periode yang sama tahun lalu. Maka posisi aset perusahaan mengalami kenaikan yang tidak terlalu tajam menjadi Rp8,174 triliun di kuartal I-2020 dari posisi Rp8,092 triliun di periode yang sama tahun lalu.

Adapun posisi liabilitas dan ekuitas masing-masing menjadi Rp3,66 triliun dan Rp3,98 triliun.[]