News

Jurnalis Filipina Kritis Terhadap Pemerintah, Tewas Dibunuh Kelompok Tak Dikenal

Jurnalis Filipina Kritis Terhadap Pemerintah, Tewas Dibunuh Kelompok Tak Dikenal
Anggota keluarga berduka di rumah mereka di Las Pinas, menyusul meninggalnya jurnalis Filipina, Percival Mabasa, yang ditembak mati (Jam Sta Rosa/AFP)

AKURAT.CO Pembunuhan jurnalis Filipina, Percival Mabasa yang ditembak mati, telah memicu kecaman keras dari kelompok media dan aktivis kebebasan pers di  negara itu. 

Penyiar radio berusia 63 tahun itu, yang juga dikenal sebagai Percival Lapid, meregang nyawa, dengan tubuh tergeletak di dekat rumahnya di ibukota Manila.

Ia tewas diserang oleh kelompok tak dikenal. Wartawan itu dibunuh oleh dua penyerang yang menaiki sepeda motor pada Senin (3/10) malam. Insiden itu berlangsung di gerbang sebuah kompleks perumahan di daerah Las Pinas di pinggiran Manila, kata polisi pada Selasa.

baca juga:

Menurut Persatuan Jurnalis Nasional, pembunuhan Mabasa menjadi tanda bahwa 'pekerja media masih menjadi profesi yang berbahaya di Filipina'.

"Insiden yang terjadi di Metro Manila menunjukkan betapa kurang ajarnya para pelaku, dan bagaimana pihak berwenang telah gagal melindungi para jurnalis serta warga biasa dari bahaya," kata mereka dalam sebuah pernyataan.

Mabasa, selama hidupnya, vokal mengkritik 'tag merah' yang kontroversial di Filipina. Pemberian tag merah ini telah dianggap sebagai pelanggaran hak asasi manusia, di mana itu berisi daftar hitam atas individu atau organisasi yang kritis atau tidak sepenuhnya mendukung tindakan administrasi pemerintah. Individu dan organisasi ini akan 'ditandai' sebagai komunis atau teroris, atau keduanya, terlepas dari keyakinan atau afiliasi politik mereka yang sebenarnya.

Selain mengritik tag merah, Mabasa juga frontal dengan operasi perjudian online dan informasi yang salah seputar darurat militer, kata serikat pekerja. Dia juga seorang kritikus yang blak-blakan terhadap mantan Presiden Rodrigo Duterte serta kebijakan dan pejabat di pemerintahan penggantinya, Ferdinand Marcos Jr.

Tidak ada komentar langsung dari pemerintah, sementara polisi berjanji untuk meminta pertanggungjawaban para pelaku.

"Kami tidak mengabaikan kemungkinan penembakan itu terkait dengan pekerjaan korban di media," kata kepala polisi setempat Jaime Santos dalam sebuah pernyataan.

Pihak keluarga menyebut pembunuhan Mabasa sebagai 'kejahatan yang menyedihkan'. Mereka telah menuntut 'pembunuhnya yang pengecut dibawa ke pengadilan'.

Kelompok hak asasi manusia Karapatan telah menggambarkan Mabasa sebagai 'salah satu penebar kebenaran paling berani di Filipina'.

Federasi Jurnalis Internasional juga telah mengutuk pembunuhan Mabasa dan meminta pemerintah untuk menyelidiki kasus tersebut.

"Dia adalah yang terbaru dalam daftar panjang wartawan yang terbunuh di negara ini," katanya.

Pembunuhan Mabasa mengikuti penusukan fatal bulan lalu terhadap jurnalis radio Rey Blanco di Filipina tengah.

Filipina memiliki salah satu lingkungan media paling liberal di Asia. Namun, negara ini juga tetap menjadi tempat paling berbahaya di dunia bagi jurnalis, terutama di provinsi-provinsinya.

Setidaknya 187 wartawan telah tewas dalam 35 tahun terakhir di Filipina, menurut pengawas internasional Reporters Without Borders. Diantara korban termasuk 32 orang tewas dalam insiden tunggal pada tahun 2009, Al Jazeera melaporkan. []