News

Jurnalis BBC Dipukuli Polisi Shanghai, Rishi Sunak: Era Emas Hubungan Inggris-China Tamat!

Jurnalis BBC Dipukuli Polisi Shanghai, Rishi Sunak: Era Emas Hubungan Inggris-China Tamat!
Perdana Menteri Rishi Sunak gagal bertemu Presiden China Xi Jinping di sela KTT G20 bulan ini di Bali. (REUTERS)

AKURAT.CO Pemerintah Inggris mengecam China setelah seorang jurnalis BBC dipukuli saat meliput aksi protes Shanghai. Menurut Perdana Menteri Rishi Sunak, China telah menimbulkan tantangan 'sistemik' terhadap nilai-nilai kepentingan Inggris.

"Mari kita perjelas, era keemasan hubungan Inggris dengan China telah berakhir, bersamaan dengan gagasan naif bahwa perdagangan secara otomatis akan mengarah pada reformasi sosial dan politik. Sebagai akibatnya, Inggris perlu mengembangkan pendekatannya ke China," ujarnya dalam pidato kebijakan luar negeri pertamanya di Perjamuan Wali Kota di London, dilansir dari AFP.

Ia mengacu pada deskripsi mantan Menteri Keuangan George Osborne soal hubungan Sino-Britania pada 2015.

baca juga:

Sunak pun menambahkan bahwa Beijing secara sadar bersaing untuk mendapatkan pengaruh global dengan menggunakan semua tuas kekuasaan negara.

"Pemerintah akan memprioritaskan untuk memperdalam hubungan perdagangan dan keamanan dengan sekutu Indo-Pasifik. Ekonomi dan keamanan tak dapat dipisahkan di kawasan tersebut," sambungnya.

Pria 42 tahun itu telah dikritik oleh beberapa orang di partainya sendiri, Partai Konservatif, karena dianggap kurang agresif terhadap China daripada pendahulunya, Liz Truss. Saat mencalonkan diri melawan Liz Truss, ia berjanji akan bersikap keras terhadap China jika menang. Negara adidaya Asia itu pun disebutnya sebagai ancaman nomor satu terhadap keamanan domestik dan global.

Namun, pertemuan yang direncanakan antara Sunak dan Presiden China Xi Jinping di sela KTT G20 bulan ini di Bali gagal. Tak sampai di situ, pekan lalu, Inggris melarang kamera CCTV buatan China dipasang di gedung-gedung pemerintah yang sensitif.

"Kami sadar China menimbulkan tantangan sistemuk terhadap nilai-nilai dan kepentingan kami, tantangan yang semakin akut saat bergerak menuju otoritarianisme yang lebih besar," tuturnya, mengacu pada insiden serangan terhadap salah satu jurnalis BBC oleh polisi China.

"Tentu saja, kami tak bisa begitu saja mengabaikan signifikansi China dalam urusan dunia, demi stabilitas ekonomi global atau masalah seperti perubahan iklim. Amerika Serikat (AS), Kanada, Australia, Jepang, dan banyak negara lainnya juga memahami ini."